Latest Post

Belanja UAV Dunia akan Mencapai USD 11,5 M Pertahun pada 2024

UCAS X-47B

Belanja UAV (pesawat tak berawak) dunia kemungkinan akan meningkat dua kali lipat pada dekade ke depan, total akan menjadi USD 11,5 miliar per tahun, perusahaan riset pasar pertahanan dan kedirgantaraan Teal Group yang berbasis di Virginia, Amerika Serikat, mengungkapkan.

"Penelitan pasar UAV 2014 Teal Group memperkirakan bahwa belanja UAV akan meningkat hampir dua kali lipat pada dekade ke depan. Belanja UAV seluruh dunia saat ini mencapai USD 6,4 miliar per tahun dan akan meningkat menjadi USD 11,5 miliar pertahun (pada 2024), total peningkatan akan mencapai USD 91 miliar selama sepuluh tahun ke depan," Teal Group melaporkan, dilansir RIA Novosti.

"Pasar UAV terus berkembang, dan menjadi pasar yang semakin global," ujar Philip Finnegan, direktur Teal Group yang juga merangkap sebagai analis dalam penelitian tersebut.

Berdasarkan penelitian Teal Group, pertumbuhan pasar UAV dunia utamanya masih didorong dari pembelian militer. Pangsa UAV saat ini adalah 89 persen pembelian oleh militer, dengan 11 persen lainnya adalah pembelian oleh sipil. Namun Teal Group memperkirakan angka-angka ini akan berubah, dan pada tahun 2024 perbandingan angka-angka ini akan menjadi 86 persen dan 14 persen masing-masing.

"Dan cakupan kami dari pasar UAV sipil terus tumbuh dalam setiap laporan tahunan, mencerminkan peningkatan bertahap di pasar sipil itu sendiri," tambah Finnegan.

Penelitian Teal Group juga memprediksi bahwa selama 10 tahun ke depan Amerika Serikat akan mendominasi sekitar 65 persen dari seluruh penelitian, pengembangan, pengujian, dan evaluasi untuk teknologi UAV di seluruh dunia, dan memegang 41 persen penjualan UAV di seluruh dunia, diungkapkan Steve Zaloga, analis lain dalam penelitian tersebut.

Data akhir 2012 dari International Institute for Strategic Studies (IISS) mengungkapkan bahwa terdapat 56 jenis UAV yang digunakan oleh 11 negara di dunia, yaitu Amerika Serikat, Rusia, Perancis, Jerman, Italia, Inggris, China, India, Iran, Israel, dan Turki. IISS menyebutkan jumlah UAV aktif dari semua negara itu mencapai 807 unit. Namun sayangnya total angka ini hanyalah akumulasi dari UAV aktif di 8 negara (meskipun ada 11 negara yang di data). Jumlah UAV aktif Rusia, China dan Turki tidak tersedia (meskipun jenisnya disebutkan), dan IISS tidak memasukkannya dalam jumlah total.

Data IISS yang sama juga menunjukkan bahwa Amerika Serikat setidaknya memiliki 678 UAV aktif, yang sebagian besar digunakan untuk tujuan militer. Pemerintahan Presiden AS Barack Obama beberapa tahun belakangan terus menerima kritik terkait kebijakan pembenaran penggunaan UAV untuk menyerang teroris, yang pada banyak kasus lebih banyak menyebabkan kematian warga sipil.

Gambar: UCAS (Unmanned Combat Air System) X-47B Angkatan Laut AS terbang di langit Pangkalan Angkatan Udara Edwards di California saat misi uji coba rutin, 29 Oktober 2011.

Tautan Teal Group: tealgroup.com

F-16 C/D TNI AU Tiba di Guam Menuju Lanud Iswahjudi

F-16 Tiba di Guam

Tiga pesawat tempur F-16 C/D 52ID TNI AU dengan call sign "Viper Flight," dari  Pangkalan Udara Eielson Alaska berhasil mendarat dengan selamat di Pangkalan Udara Andersen Guam.

Ketiganya lepas landas dari Pangkalan Udara Eielson pada 22 Juli pukul 11.14 waktu setempat dan mendarat di Guam pada pukul 15.00 waktu setempat. Pesawat leader adalah F-16 C dengan nomor TS 1625 yang diterbangkan Col. Howard  Purcel,  pesawat kedua adalah F-16 D dengan nomor TS 1620 yang dipiloti Maj Collin Coatney/Ltk. Firman Dwi Cahyono dan pesawat ketiga juga F-16 D dengan nomor TS 1623 yang diawaki Ltc. Erick Houston/May. Anjar Legowo.

Viper Flight telah menempuh perjalanan dari Alaska menuju Guam selama 9 jam 46 menit dengan dikawal pesawat tanker KC-10 dari Pangkalan Udara Travis. Semula flight terbang pada ketinggian 7.620 meter dengan kecepatan 0.75 MN (Mach Number) atau sekitar 450 KTAS (Knots True Air Speed) melewati Samudra Pasifik yang luas. Namun penerbangan terpaksa naik ke ketinggian 8.230 meter untuk menghindari awan dan turbulensi. Selanjutnya pada dua jam terakhir kecepatan terpaksa ditambah agar tiba sesuai rencana. Selama perjalanan telah dilaksanakan 9 kali air to air refueling (isi bahan bakar di udara). Saat mendarat dalam kondisi hujan ringan, namun setelah landing menjadi cukup lebat.

F-16 Guam

Setelah sebelumnya tertahan selama 5 hari di Eielson karena kerusakan pada pesawat tanker, maka besok tanggal 23 Juli akan dilaksanakan penerbangan leg terakhir dari Guam langsung menuju Lanud Iswahjudi Madiun dengan rencana waktu tempuh 5 jam 16 menit. Ketiga pesawat rencananya akan mendarat pada pukul 11.16 di Lanud Iswahjudi Madiun pada tanggal 24 Juli 2014, dan akan diterima oleh Kepala Staf Angkatan Udara dan pejabat teras TNI AU dan Kemhan untuk selanjutnya akan langsung diparkir di hangar Skadron Udara 3 "The Dragon Nest" untuk inspeksi.

Setelah libur Idul Fitri, maka enam instruktur penerbang F-16 akan mulai melanjutkan latihan terbang konversi F-16 C/D nya di Lanud Iswahjudi Madiun mulai Agustus 2014 dibawah supervisi empat instruktur penerbang dari US Air Force Mobile Training Team.

Rencananya pesawat-pesawat ini akan menjalani modifikasi pemasangan peralatan drag chute (rem payung) karena konfigurasi awal pesawat F16C/D-52ID tidak dilengkapi dengan drag chute yang dilakukan teknisi TNI AU dibantu personel Lockheed Martin pada kuartal pertama 2015.

Seluruh pesawat sebelumnya menjalani upgrading dan refurbished rangka "airframe" serta modernisasi sistem avionik dan persenjataan di Ogden Air Logistics Center Hill AFB, Utah. Rangka pesawat diperkuat, kokpit diperbarui, jaringan kabel dan elektronik baru dipasang, semua sistem lama di rekondisi atau diganti menjadi baru dan mission computer canggih baru sebagai otak pesawat  ditambahkan agar lahir kembali dengan kemampuan jauh lebih hebat.

Sumber: TNI AU

Lepas landas dan Mendarat Dimanapun: Rusia Perkenalkan UAV Amfibi

 UAV amfibi Chirok

Belum cukup memiliki rudal balistik, Rusia mengembangkan pesawat tak berawak (UAV) amfibi yang merupakan hibridisasi antara UAV dengan hovercraft amfibi. UAV unik yang tidak memerlukan lapangan untuk lepas landas dan mendarat ini ditampilkan saat pameran teknologi Innoprom-2014 di Yekaterinburg, Rusia tengah, 9-12 Juli 2014.

UAV yang dijuluki Chirok ini dikembangkan oleh perusahaan Rusia Rostec, dan baru kali ini dipamerkan di hadapan publik. Chirok mampu mendarat di medan apapun, termasuk di salju, pasir, air, rawa atau daerah apapun yang relatif datar.

Prototipe Chirok yang ditampilkan ini masih dalam ukuran 1:5, yang sengaja dibuat untuk menguji kinerja aerodinamisnya di wind tunnel (terowongan angin) di Central Aero-hydrodynamic Institute di kota Zhukovsky, Rusia.

UAV amfibi Chirok

Pada 2015 nanti, UAV Chirok dengan ukuran penuh akan memulai uji penerbangan. Chirok akan memiliki rentang sayap 10 meter, dan memiliki bobot lepas landas maksimum sekitar 700 kg, yang mana 300 kg nya merupakan muatannya. Mampu terbang di ketinggian 6.100 meter, UAV ini diharapkan mampu melakukan penerbangan sejauh 2.500 km. Informasi mengenai sistem propulsi Chirok, masih belum dipublikasi.

UAV amfibi yang bodinya mirip dengan kepala paus pembunuh ini dibuat secara eksklusif dari bahan komposit (kemungkinan besar utamanya dari serat karbon namun hal ini belum dikonfirmasi. Sedangkan membran bantalan udaranya (air cushion) terbuat dari bahan ultra-modern yang dikembangkan oleh ahli Rusia dan dipatenkan oleh Rostec Corporation (informasi dari Russian Times, Rostec sendiri tidak mengonfirmasi hal ini.

UAV amfibi Chirok
UAV amfibi Chirok

Meskipun saat ini UAV amfibi Chirok akan digunakan masih dalam ruang lingkup sipil, seperti pemantauan kebakaran hutan, daerah bencana, lalu lintas, pengiriman kebutuhan untuk rig minyak yang jauh, namun konstruksinya sudah memungkinkan untuk digunakan oleh militer.

Chirok mampu membawa bom, roket dan senjata presisi tinggi, seperti rudal berukuran kecil. Dan tidak sepeti kebanyakan UAV, Chirok memiliki inner space (ruang dalam) yang pas untuk membawa senjata internal, sehingga tidak akan mengganggu visibilitas dan sifat aerodinamisnya. Karena Chirok berukuran sedang dan terbuat dari bahan komposit, Chirok juga diyakini berkarakteristik siluman yang sangat baik.

Diharapkan pada pameran dirgantara MAKS-2015 di Moskow nanti, UAV Chirok sudah akan tampil dalam ukuran penuh. Produksinya sendiri secepatnya akan dimulai pada 2016.

Gambar: Rostec Corporation

Geliat Pengembangan Kapal Selam Nuklir China

Armada kapal selam China

Akhir 2013 lalu, China berhasil melucuti reaktor nuklir salah satu kapal selam nuklirnya. Membuatnya tergabung dengan kelompok negara yang mampu melakukannya, yaitu Amerika Serikat, Rusia dan Perancis. Sementara Inggris saat ini masih dalam rencana untuk melucuti reaktor nuklir kapal selamnya, setelah bisa menentukan tempat penyimpanan (untuk selama-lamanya) reaktor nuklir dan semua komponen radioaktif dari kapal selamnya. Ketika reaktor nuklir sudah dilucuti, maka kapal selam nuklir berubah menjadi kapal selam konvensional. Pembongkarannya dilakukan secara parsial, kemudian komponen radioaktif kapal selam disegel dalam kontainer kokoh tahan radiasi. Kontainer ini kemudian disimpan di tempat aman dengan penjagaan, biasanya disimpan di daerah yang terisolir dan stabil secara geologi.

Kapal selam nuklir yang China bongkar ini adalah kapal selam serang bertenaga nuklir (SSN) Type 091 (Kelas Han) yang dibuat pada awal 1970-an dan aktif digunakan sampai awal 1990-an. Dari tahun tersebut hingga ke pembongkaran, kapal selam ini hanya bersandar di dermaga.

Pada akhir tahun 2013, China pertama kali menampilkan kapal selam nuklirnya kepada media China. Acara ini diadakan untuk memperingati 42 tahun China mengoperasikan kapal selam nuklir tanpa mengalami kecelakaan reaktor. Sementara satu-satunya negara yang pernah mengalami kecelakaan reaktor kapal selam nuklir adalah Uni Soviet.

Sejak tahun 1950-an, ratusan miliar dolar telah dihabiskan untuk mengembangkan dan membangun kapal selam bertenaga nuklir. Sekitar 300 unit pernah dibangun, sebagian besar merupakan milik Rusia. Kapal selam nuklir baru satu kali digunakan dalam pertempuran (pada tahun 1982, ketika sebuah SSN Inggris menenggelamkan sebuah kapal Argentina). Ketika Perang Dingin berakhir, Rusia mulai membongkar armada kapal selam nuklirnya yang besar, terdiri dari puluhan kapal selam tua yang memiliki banyak masalah ketimbang harus dipertahankan. Seiring keruntuhan armada besar kapal selam nuklir Rusia, kekuatan kapal selam nuklir Angkatan Laut AS yang mencapai puncaknya (100 unit) pada akhir Perang Dingin juga menyusut menjadi kurang dari 50 hingga saat ini.

China saat ini memiliki sekitar selusin kapal selam nuklir yang aktif (8 SSN dan 4 SSBN) dan track record kapal-kapal selam ini selama 42 tahun belakangan cukup suram. SSN China bising (mudah terdeteksi sensor) dan kurang dapat diandalkan. SSN China juga jarang melaut, mungkin inilah salah satu alasan mengapa China tidak pernah mengalami kecelakaan reaktor nuklir kapal selam. Kapal selam nuklir pembawa rudal balistik (SSBN) China pada dasarnya hanyalah versi SSN yang lebih besar dan sekalipun belum pernah melakukan patroli tempur, hanya menjalani beberapa misi pelatihan singkat.

China butuh waktu hampir satu dekade untuk perencanaan, konstruksi, dan mencoba-coba untuk membangun kapal selam nuklir. Yang pertama lahir adalah Type 091 Long March No.1, yang mulai digunakan pada tahun 1974. SSN pertama China ini dinilai hanya sebagai kapal pembelajaran, dan tidak benar-benar dioperasikan hingga pertengahan tahun 1980-an. Sebagai SSN, Type 091 terbilang kecil (4.100 ton) dan hanya diawaki oleh sekitar 75 pelaut. Pelaut China menganggap Type 091 lebih berbahaya dari musuh. Risiko kebocoran radiasi dari kapal ini sangat ditakuti pelaut China. Sonar buatan Perancis terinstal di dalamnya, dan banyak peralatan elektronik lain yang berasal dari negara lain. Pada tahun 1980-an, banyak yang berpikir China akan membatalkan kapal selam ini, tapi ternyata China terus memperbaiki dan mengupgrade mereka. Dibanding kapal selam modern AS, Rusia, Inggris, Perancis saat ini, Type 091 memang dianggap ketinggalan zaman. Lima unit telah dibuat, dua telah pensiun dan salah satunya diubah menjadi kapal museum. Meskipun jarang melaut, tapi Type 091 dijadikan China sebagai kapal pelatihan prosedur dasar untuk pengawak kapal selam nuklir. Jika memang hanya digunakan untuk hal ini, ketidakmampuan Type 091 untuk "silent" ketika di bawah air tentu tidaklah menjadi masalah.
Setelah Type 093 melaut, China tampaknya masih tidak puas dengan kinerjanya. Masalah yang sama, terlalu berisik dan memilki daftar panjang kecacatan kecil.
SSBN generasi pertama China adalah Type 092 (Kelas Xia) 6.500 ton, mulai beroperasi pada awal 1980-an, dan sebagai versi yang lebih besar dari SSN Type 091. Selain berukuran lebih besar, perbedaan mencoloknya adalah Type 092 dilengkapi dengan empat tabung rudal, tapi juga jarang melaut. Masalah kebisingan dan risiko kebocoran radiasi juga menguntit Type 092. Sebelum akhirnya membangun SSN Type 093 (Kelas Shang) dan SSBN Type 094 (Kelas Jin), China fokus memecahkan masalah pada Type 092.

Type 093 7.000 ton muncul pada tahun 2002 dan memiliki banyak kemiripan dengan SSN Victor III Rusia dari tiga dekade lalu. Setelah Type 093 melaut, China tampaknya masih tidak puas dengan kinerjanya. Masalah yang sama, terlalu berisik dan memilki daftar panjang kecacatan kecil. Dan jenis selanjutnya yaitu SSBN Type 094 juga masih terlihat seperti Victor III namun dengan penambahan kompartemen rudal. Membuat SSBN dengan memanfaatkan desain SSN dengan penambahan kompartemen rudal balistik bukanlah hal baru, pada 1950-an Amerika Serikat melakukannya untuk membangun SSBN pertamanya. Dan China tampaknya memang melakukan hal yang sama dengan SSN mereka, membangun SSBN yang lebih besar dengan bobot benaman 9.000 ton dan ditambah kompartemen rudal balistik. Untuk SSBN, prioritas China tampaknya jatuh pada Type 094, yang mana memiliki rudal yang mampu mencapai Amerika Serikat, menambah pengaruh China di dunia ketimbang beberapa SSN baru mereka.

China diyakini sudah membangun tiga Type 094 dan diyakini masih berencana membangun tiga lagi. Type 094 sama dengan Type 093, hanya saja ukurannya lebih besar dan dilengkapi dengan rudal balistik. Kapal selam ini sudah dikembangkan selama lebih dari satu dekade dari sekarang. Yang pertama diluncurkan pada tahun 2004 dan mulai beroperasi pada tahun 2007.

China memang sudah mengoperasikan SSBN Type 094, namun sekalipun belum pernah melakukan patroli tempur, yaitu melaut selama 30 hari dengan rudal nuklir yang siap digunakan. Tapi kembali lagi, apapun kesulitan yang dihadapi China dalam membangun SSBN, tetap saja kemampuan ini menakutkan. China tidak terburu-buru dalam mengoperasikan kapal-kapal selam nuklirnya dan rencananya baru pada tahun ini China akan melakukan operasi patroli tempur SSBN dengan rudal balistik JL-2.

Terakhir, jenis SSN baru Type 095 China diluncurkan pada tahun 2010 dan diharapkan akan beroperasi pada tahun depan. Sebuah 095 (kemungkinan sudah dibuat 2 unit) diketahui telah menjalani uji coba laut, tapi tidak banyak yang diketahui dari SSN baru China ini.

4 Sistem Rudal Permukaan ke Udara Rusia yang Bisa Menembak MH17

Pesawat penumpang MH17 Malaysia ditembak jatuh di Ukraina timur Kamis pagi, menewaskan 295 orang. Laporan-laporan menyebutkan bahwa separatis pro-Rusia di Ukraina timur, atau militer Rusia yang ditempatkan di perbatasan Rusia-Ukraina yang menembak jatuh pesawat sipil itu. Pihak Ukraina, Rusia dan separatis pro-Rusia di Ukraina timur membantah terlibat dalam insiden itu.

MH17 terbang dengan kecepatan sekitar 805 km per jam di ketinggian 10.000 meter. Untuk menembak jatuh pesawat di ketinggian ini, diperlukan rudal permukaan ke udara atau rudal udara ke udara. Indikasi terkuat adalah MH17 ditembak jatuh oleh rudal permukaan ke udara (SAM).

Di bawah ini adalah empat sistem SAM Rusia yang bisa menembak jatuh pesawat yang terbang di ketinggian 10.000 meter:

BUK-M2E
BUK-M2. Gambar:Vitaly V. Kuzmin
Sistem Rudal BUK (Kode NATO: SA-11/SA-17)

Ukraina mengklaim bahwa separatis pro-Rusia di Ukraina timur memiliki sistem rudal BUK. NATO menyebut sistem rudal ini sebagai SA-11 GADFLY dan versi yang lebih modern (BUK-M) disebut sebagai SA-17 GRIZZLY. Sistem rudal ini dikembangkan oleh Uni Soviet untuk menggantikan sistem rudal 2K12 Kub.

BUK adalah sistem rudal mobile yang terdiri dari truk komando, truk TAR (target acquisition radar), truk TELAR (transporter erector launcher and radar) dan truk TEL (transporter erector launcher). Standar batalyon BUK terdiri dari truk komando, truk TAR, enam truk TELAR dan tiga truk TEL. Baterai BUK terdiri dari dua truk TELAR dan satu TEL.

Sistem rudal SAM jarak menengah ini telah diupgrade beberapa kali sejak diperkenalkan pada tahun 1979. Jangkauan dan kemampuannya tergantung dari jenis rudal yang digunakan. SA-11 diperkenalkan pada tahun 1979 dengan menggunakan rudal 9M38 yang memiliki jangkauan keterlibatan 5-30 km dan ketinggian 30-14.000 meter. Pada tahun 1984, SA-11 memperoleh rudal upgrade 9M38M1 yang meningkatkan jangkauannya menjadi 35 km dan ketinggian hingga 22.000 meter.

Sistem BUK-M yang lebih canggih disebut NATO sebagai SA-17, bersamaan ketika rudal 9M317 diperkenalkan pada tahun 1998. Rudal ini memiliki jangkauan keterlibatan 4-50 km dan ketinggian 30-25.000 meter. SA-17 juga mendapatkan upgrade pada TAR, yang membuatnya bisa terlibat dengan 24 target secara simultan.

S-400 Triumf
S-400. Gambar via defenceradar.com
S-400 Triumf (Kode NATO: SA-21 Growler)

Ini adalah sistem rudal permukaan ke udara yang dianggap paling canggih di dunia yang diperkenalkan Rusia pada tahun 2004. Sistem rudal jarak menengah-jauh ini memiliki tiga rudal berbeda, rudal 48N6 dan 40N6 untuk jarak jauh dan rudal 9M96 untuk jarak menengah. Bila menggunakan rudal 40N6, jangkauan keterlibatannya bisa mencapai 400 km dan ketinggian 30.000 meter.

Apa yang membuat sistem rudal ini berbeda adalah banyaknya target yang bisa dilacaknya secara bersamaan. Radar akuisisi target S-400 mampu melacak 36 target aerodinamis dan 72 rudal. Sebagai perbandingan, sistem rudal BUK hanya mampu melacak 24 target. Saat ini, hanya Rusia yang mengoperasikan S-400 meskipun ada kemungkinan diekspor ke negara lain.

2K12 Kub
2K12 Kub. Gambar: Chmee2
2K12 Kub (Kode NATO: SA-6 GAINFUL)

Sistem rudal permukaan ke udara jarak menengah Rusia ini merupakan pendahulu dari sistem rudal BUK. Dirancang pada tahun oleh Uni Soviet pada tahun 1959 dan diproduksi antara 1964-1985. Sebagai pendahulu, 2K12 tidak lebih sebagai versi sederhana dari BUK yang memiliki jangkauan keterlibatan antara 3-25 km dan ketinggian 11.000 meter. Rusia diketahui masih mengoperasikan beberapa sistem 2K12 Kub diwilayahnya.

S-75A Dvina
S-75A Dvina. Gambar: Biso
S-75A Dvina (Kode NATO: SA-2 GUIDELINE)

Sistem rudal high altitude permukaan ke udara ini dirancang Uni Soviet untuk mencegat pesawat pembom dan mata-mata Amerika Serikat. Sistem rudal ini menjadi terkenal setelah berhasil menembak jatuh pesawat U-2 Amerika Serikat di era Perang Dingin. S-75 juga berhasil menembak jatuh pilot AS saat Perang Vietnam.

Sistem S-75A Dvina dilengkapi dengan radar dan rudal yang dapat mencegat target yang terbang di ketinggian 35.000 meter dan jarak 66 km (tergantung versi). Rusia telah mengekspor sistem rudal ini ke Asia (termasuk Indonesia di era Soekarno) dan Afrika. Rusia tidak lagi menggunakan sistem ini. Beberapa negara yang masih menggunakan sistem ini adalah Libya, Korea Utara dan Suriah.

Teka Teki Pelaku Penembakan MH17

BUK M2

Ukraina, Rusia, dan separatis pro-Rusia di Ukraina timur adalah tiga pihak yang bisa menjadi tersangka dalam kasus jatuhnya pesawat Malaysia Airlines Flight MH17, namun bukti kuat menunjukkan bahwa pelakunya adalah pihak yang terakhir.

Pesawat sipil Malaysia Airlines Flight MH17 jatuh di dekat kota Shakhtyorsk, provinsi Donetsk, Ukraina. Pesawat itu terbang di ketinggian 10.000 meter dalam penerbangannya dari Amsterdam ke Kuala Lumpur. Pesawat itu jatuh sekitar 32 km dari perbatasan Rusia.

Hampir bisa dipastikan bahwa pesawat itu jatuh ditembak, bukan jatuh sendiri karena kegagalan mekanis atau kelalaian pilot. Dan juga hampir bisa dipastikan bahwa pesawat itu adalah korban salah tembak, karena ketiga belah pihak masing-masing tidak memiliki motif apapun untuk sengaja menjatuhkan pesawat sipil itu.

Investigasi lebih lanjut sangat penting dilakukan guna mengetahui siapa pelakunya. Ada tiga pihak yang kemungkinan bertanggung jawab atas insiden MH17 ini:

Yang pertama Ukraina. Bisa saja Ukraina menembak jatuh pesawat nahas itu karena mengira itu adalah pesawat militer Rusia yang terbang di langit Ukraina. Beberapa menyatakan bahwa pemerintah Ukraina telah menetapkan wilayah udara di bagian timur Ukraina adalah zona "operasi anti teroris" dan menuntut semua pesawat sipil yang terbang di atas wilayah itu terbang dengan ketinggian lebih dari 7.900 meter. Kebenaran mengenai hal ini masih tidak jelas. MH17 sendiri terbang jauh diatas ketinggian yang ditentukan dan bisa saja personel militer Ukraina salah dalam membaca ketinggian MH17.

Tapi tuduhan ke Ukraina tampaknya tidak mungkin. Seperti yang disebutkan, MH17 akan terbang ke arah Rusia, sehingga kecil kemungkinan militer atau pemerintah Ukraina memerintahkan untuk menembaknya jatuh. Terlebih lagi hingga saat ini Ukraina belum satupun menembak jatuh pesawat selama konflik berlangsung. Ukraina juga menyerukan penyelidikan internasional atas insiden itu.

Yang kedua adalah Rusia. Seperti diketahui, dalam beberapa hari terakhir Rusia telah mengumpulkan tentara di perbatasan dengan Ukraina. Ukraina juga telah mengklaim bahwa rudal udara ke udara Rusia telah menembak salah satu Sukhoi Su-25 nya pada hari Rabu, dan rudal permukaan ke udara juga telah ditembakkan ke Su-25 lainnya dari wilayah Rusia di hari yang sama. Pada Senin lalu, Kiev juga mengklaim bahwa rudal permukaan ke udara yang ditembakkan dari wilayah Rusia telah menjatuhkan sebuah pesawat angkut militer. Fakta bahwa MH17 terbang dari Ukraina menuju Rusia juga berarti bahwa Moskow bisa saja keliru, mengira pesawat sipil itu adalah pesawat musuh.

Namun, Rusia diyakini memiliki kemampuan ISR (intelijen, pengawasan, dan pengintaian) yang baik, dengan demikian kecil kemungkinannya Rusia salah menilai MH17 adalah pesawat musuh. Selain itu, Moskow juga telah membantah semua tuduhan Ukraina terkait insiden dua Su-25 dan pesawat angkut militer, dan bahkan muncul pemberitaan yang menyatakan separatis Ukraina lah yang telah mengaku bertanggung jawab atas insiden ketiga (pesawat angkut militer).

Yang ketiga adalah separatis pro-Rusia di Ukraina timur. Beberapa pejabat pemerintah Ukraina menuduh separatis pro-Rusia di Ukraina Timur yang telah menembak jatuh MH17. Dinilai dari insiden-insiden selama konflik, mereka memang pihak yang paling mungkin berada di balik insiden itu. Para pemberontak sudah biasa menargetkan pesawat militer Ukraina yang terbang di atas wilayah yang mereka kuasai tersebut. Selain itu, mengingat kemampuan ISR mereka yang terbatas, merekalah yang paling mungkin salah mengira MH17 adalah pesawat angkut militer Ukraina. Juga mengingat pesawat ini terbang dari barat ke timur, atau dengan kata lain terbang dari wilayah udara Ukraina menuju timur Ukraina.

Ada pula bukti lain yang menguatkan pemberontak terlibat dalam insiden jatuhnya MH17. Muncul Tweet yang menampilkan screenshoot dari laporan sebelumnya di mana para pemberontak di timur Ukraina mengklaim telah menembak jatuh sebuah pesawat angkut militer Ukraina. Laporan ini sudah dihapus, namun cukup menguatkan bukti bahwa pemberontak Ukraina lah yang menembak jatuh MH17 karena mereka mengira itu pesawat angkut militer Ukraina seperti Antonov An-26.

Namun ada pertanyaan besar terkait keterlibatan separatis Ukraina dalam insiden MH17, adalah apakah senjata yang mereka miliki memang mampu menembak jatuh pesawat itu. Sebuah catatan dari Stratfor, "Berdasarkan ketinggian pesawat, hanya rudal permukaan ke udara jarak menengah-jauh yang bisa menembak jatuh pesawat itu." Kelompok separatis Ukraina dikabarkan juga telah membantah menembak jatuh MH17, alasannya mereka hanya memiliki sistem pertahanan udara portabel (man) yang tidak dapat ditargetkan untuk pesawat yang terbang di ketinggian 10.000 meter.

Pemerintah Ukraina sendiri mengatakan bahwa BUK-M1 (SA-11), sistem rudal permukaan ke udara lah yang menembak jatuh MH17, dan disebutkan juga Rusia telah menyediakan sistem rudal ini untuk separatis pro-Rusia di timur Ukraina. Seorang wartawan Associated Press di Ukraina Timur juga mengaku telah melihat para pemberontak menggunakan sistem rudal BUK di wilayah tersebut, yang dapat menembak jatuh target yang terbang di ketinggian 22.000 meter.

Sumber intelijen Amerika Serikat seperti dilansir IHS Jane mengonfirmasi bahwa MH17 ditembak oleh rudal permukaan ke udara, dan seorang mantan ahli pertahanan udara Soviet dan Ukraina di Kiev mengatakan kepada IHS Jane bahwa rudal ini adalah BUK yang dikendalikan oleh pemberontak pro-Rusia di timur Ukraina
.
Menurut seorang spesialis intelijen NATO, kelompok separatis meyakini bahwa mereka telah menembak jatuh sebuah pesawat angkut militer Ukraina. Namun ketika mereka mengetahui bahwa itu adalah pesawat sipil Malaysia mereka panik, lalu menghapus semua posting di sosial media terkait insiden itu, kata sumber NATO.

Dengan demikian, skenario yang paling mungkin adalah separatis pro-Rusia di Ukraina timur lah yang menembak jatuh MH17 dengan menggunakan senjata anti pesawat Rusia. Insiden ini bisa menjadi alamat buruk bagi Rusia, dan lebih buruk lagi bagi para pendukungnya di Ukraina timur. Insiden ini akan menggembleng masyarakat internasional untuk bersama-sama memberikan dukungan bagi pemerintah Ukraina untuk mengalahkan pemberontak, serta meningkatkan tekanan kepada Rusia agar berhenti memberikan dukungan kepada pemberontak di Ukraina timur. (Diplomat).

Gambar: Leonidl/Wiki Common

Inggris Upgrade 59 Tornado GR4

Tornado GR4 RAF

Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) berencana menyelesaikan upgrade teknologi 59 pesawat tempur Tornado GR4 pada tahun 2016, sebagai bagian dari rencana modernisasi untuk menjaga Tornado tetap relevan sampai F-35 JSF dan Eurofighter Typhoon datang, kata seorang pejabat RAF saat Farnborough International Airshow di Inggris.

Pekerjaan upgrade akan melengkapi Tornado dengan senjata presisi, peningkatan sistem pertukaran data dan teknologi komunikasi yang aman, kata Dave Waddington, Tornado Force Commander, RAF, dilansir laman Flight Global.

Meskipun saat ini sudah ada delapan pesawat Tornado upgrade (baru-baru ini bertugas di Afghanistan), RAF berencana meng-upgrade lebih banyak lagi agar relevan hingga awal 2019, dimana saat itu F-35 dan Eurofighter Typhoon RAF sudah banyak, kata Waddington.

Waddington mengatakan bahwa Tornado akan pensiun pada 2019, kecuali Departemen Pertahanan mengkaji ulang. 

"Masa depan Angkatan Udara Kerajaan Inggris adalah F-35 dan Typhoon," kata Waddington. "Tapi (Tornado) tetap penting untuk RAF. (Upgrade) Ini akan memastikan Tornado tetap relevan."  
Enam Tornado pertama selesai di-upgrade pada bulan Maret tahun lalu dan RAF menginginkan upgrade 59 Tornado selesai pada bulan Maret 2016.

Tornado GR4 adalah pesawat tempur dua kursi yang telah dioperasikan selama lebih dari 30 tahun dan terakhir diproduksi pada tahun 1998. Pesawat dengan panjang 17 meter itu bisa terbang dengan kecepatan Mach 1,3 (1.592 km/jam) dan ketinggian 50.000 kaki (15,2 km).

Selain itu, Tornado dapat terbang secara otomatis jika visi kabur akibat cuaca buruk dengan menggunakan radar yang penyisir medan, kata pejabat RAF.

Tornado GR4 RAF

Tornado GR4 RAF

Upgrade senjata presisi akan membuat Tornado mampu menembakkan Paveway IV, bom pandu laser dan GPS buatan Raytheon.

"Kemampuan bom presisi merupakan kunci Tornado. Ini akan memberikan kita kemampuan untuk menyerang target dengan presisi yang diinginkan. (Tapi) Ini bukan hanya tentang senjata itu sendiri, elemen kuncinya adalah integrasi," Waddington menjelaskan.

Komunikasi radio yang aman juga merupakan bagian integral dari upgrade yang akan memungkinkan awak Tornado berkomunikasi secara aman satu sama lain atau dengan pasukan sekutu.

"Ini akan memberikan kita kemampuan untuk berkomunikasi secara aman dengan sekutu kami, dan anti jamming," tambahnya.

Sistem pertukaran data digital yang disebut "Link 16" juga merupakan bagian dari upgrade Tornado, yang memungkinkan awak Tornado berbagi informasi tempur yang relevan seperti data penargetan. Link 16 adalah sistem yang juga paling banyak digunakan pesawat AS.

"(Sistem) Komunikasi yang aman akan memungkinkan awak udara berkomunikasi dengan forward air controllers dan tactical air controller di darat dalam cara yang dapat diandalkan, artinya ketika mereka sudah sampai disana (tujuan) mereka sudah tahu yang harus dilakukan tanpa perlu (menunggu) menghabiskan waktu 10 atau 15 menit untuk memahami lokasi target atau situasi medan," Waddington menjelaskan.

Jika medan sudah dipahami dengan cepat, maka kru Tornado dapat lebih cepat dalam menyebarkan kekuatan apapun yang diperlukan, tentunya dengan cara yang aman dan berhati-hati untuk menghindari serangan terhadap kawan, Waddington menambahkan.

Gambar: USAF
HOME
▲ Back To Top
NEWSLETTER

Masukkan email pada form di bawah ini lalu klik 'SUBMIT'. Setiap artikel terbaru akan kami kirimkan ke email Anda.


Sebagian besar kematian tempur di Perang Napoleon, Perang Dunia I dan Perang Dunia II disebabkan oleh artileri. Stalin menyebut artileri sebagai "God of War". Namun, ini hanya blog yang bernama ARTILERI.


  • facebook
  • twitter
  • google plus
  • rss