Latest Post

4 Sistem Rudal Permukaan ke Udara Rusia yang Bisa Menembak MH17

Pesawat penumpang MH17 Malaysia ditembak jatuh di Ukraina timur Kamis pagi, menewaskan 295 orang. Laporan-laporan menyebutkan bahwa separatis pro-Rusia di Ukraina timur, atau militer Rusia yang ditempatkan di perbatasan Rusia-Ukraina yang menembak jatuh pesawat sipil itu. Pihak Ukraina, Rusia dan separatis pro-Rusia di Ukraina timur membantah terlibat dalam insiden itu.

MH17 terbang dengan kecepatan sekitar 805 km per jam di ketinggian 10.000 meter. Untuk menembak jatuh pesawat di ketinggian ini, diperlukan rudal permukaan ke udara atau rudal udara ke udara. Indikasi terkuat adalah MH17 ditembak jatuh oleh rudal permukaan ke udara (SAM).

Di bawah ini adalah empat sistem SAM Rusia yang bisa menembak jatuh pesawat yang terbang di ketinggian 10.000 meter:

BUK-M2E
BUK-M2. Gambar:Vitaly V. Kuzmin
Sistem Rudal BUK (Kode NATO: SA-11/SA-17)

Ukraina mengklaim bahwa separatis pro-Rusia di Ukraina timur memiliki sistem rudal BUK. NATO menyebut sistem rudal ini sebagai SA-11 GADFLY dan versi yang lebih modern (BUK-M) disebut sebagai SA-17 GRIZZLY. Sistem rudal ini dikembangkan oleh Uni Soviet untuk menggantikan sistem rudal 2K12 Kub.

BUK adalah sistem rudal mobile yang terdiri dari truk komando, truk TAR (target acquisition radar), truk TELAR (transporter erector launcher and radar) dan truk TEL (transporter erector launcher). Standar batalyon BUK terdiri dari truk komando, truk TAR, enam truk TELAR dan tiga truk TEL. Baterai BUK terdiri dari dua truk TELAR dan satu TEL.

Sistem rudal SAM jarak menengah ini telah diupgrade beberapa kali sejak diperkenalkan pada tahun 1979. Jangkauan dan kemampuannya tergantung dari jenis rudal yang digunakan. SA-11 diperkenalkan pada tahun 1979 dengan menggunakan rudal 9M38 yang memiliki jangkauan keterlibatan 5-30 km dan ketinggian 30-14.000 meter. Pada tahun 1984, SA-11 memperoleh rudal upgrade 9M38M1 yang meningkatkan jangkauannya menjadi 35 km dan ketinggian hingga 22.000 meter.

Sistem BUK-M yang lebih canggih disebut NATO sebagai SA-17, bersamaan ketika rudal 9M317 diperkenalkan pada tahun 1998. Rudal ini memiliki jangkauan keterlibatan 4-50 km dan ketinggian 30-25.000 meter. SA-17 juga mendapatkan upgrade pada TAR, yang membuatnya bisa terlibat dengan 24 target secara simultan.

S-400 Triumf
S-400. Gambar via defenceradar.com
S-400 Triumf (Kode NATO: SA-21 Growler)

Ini adalah sistem rudal permukaan ke udara yang dianggap paling canggih di dunia yang diperkenalkan Rusia pada tahun 2004. Sistem rudal jarak menengah-jauh ini memiliki tiga rudal berbeda, rudal 48N6 dan 40N6 untuk jarak jauh dan rudal 9M96 untuk jarak menengah. Bila menggunakan rudal 40N6, jangkauan keterlibatannya bisa mencapai 400 km dan ketinggian 30.000 meter.

Apa yang membuat sistem rudal ini berbeda adalah banyaknya target yang bisa dilacaknya secara bersamaan. Radar akuisisi target S-400 mampu melacak 36 target aerodinamis dan 72 rudal. Sebagai perbandingan, sistem rudal BUK hanya mampu melacak 24 target. Saat ini, hanya Rusia yang mengoperasikan S-400 meskipun ada kemungkinan diekspor ke negara lain.

2K12 Kub
2K12 Kub. Gambar: Chmee2
2K12 Kub (Kode NATO: SA-6 GAINFUL)

Sistem rudal permukaan ke udara jarak menengah Rusia ini merupakan pendahulu dari sistem rudal BUK. Dirancang pada tahun oleh Uni Soviet pada tahun 1959 dan diproduksi antara 1964-1985. Sebagai pendahulu, 2K12 tidak lebih sebagai versi sederhana dari BUK yang memiliki jangkauan keterlibatan antara 3-25 km dan ketinggian 11.000 meter. Rusia diketahui masih mengoperasikan beberapa sistem 2K12 Kub diwilayahnya.

S-75A Dvina
S-75A Dvina. Gambar: Biso
S-75A Dvina (Kode NATO: SA-2 GUIDELINE)

Sistem rudal high altitude permukaan ke udara ini dirancang Uni Soviet untuk mencegat pesawat pembom dan mata-mata Amerika Serikat. Sistem rudal ini menjadi terkenal setelah berhasil menembak jatuh pesawat U-2 Amerika Serikat di era Perang Dingin. S-75 juga berhasil menembak jatuh pilot AS saat Perang Vietnam.

Sistem S-75A Dvina dilengkapi dengan radar dan rudal yang dapat mencegat target yang terbang di ketinggian 35.000 meter dan jarak 66 km (tergantung versi). Rusia telah mengekspor sistem rudal ini ke Asia (termasuk Indonesia di era Soekarno) dan Afrika. Rusia tidak lagi menggunakan sistem ini. Beberapa negara yang masih menggunakan sistem ini adalah Libya, Korea Utara dan Suriah.

Teka Teki Pelaku Penembakan MH17

BUK M2

Ukraina, Rusia, dan separatis pro-Rusia di Ukraina timur adalah tiga pihak yang bisa menjadi tersangka dalam kasus jatuhnya pesawat Malaysia Airlines Flight MH17, namun bukti kuat menunjukkan bahwa pelakunya adalah pihak yang terakhir.

Pesawat sipil Malaysia Airlines Flight MH17 jatuh di dekat kota Shakhtyorsk, provinsi Donetsk, Ukraina. Pesawat itu terbang di ketinggian 10.000 meter dalam penerbangannya dari Amsterdam ke Kuala Lumpur. Pesawat itu jatuh sekitar 32 km dari perbatasan Rusia.

Hampir bisa dipastikan bahwa pesawat itu jatuh ditembak, bukan jatuh sendiri karena kegagalan mekanis atau kelalaian pilot. Dan juga hampir bisa dipastikan bahwa pesawat itu adalah korban salah tembak, karena ketiga belah pihak masing-masing tidak memiliki motif apapun untuk sengaja menjatuhkan pesawat sipil itu.

Investigasi lebih lanjut sangat penting dilakukan guna mengetahui siapa pelakunya. Ada tiga pihak yang kemungkinan bertanggung jawab atas insiden MH17 ini:

Yang pertama Ukraina. Bisa saja Ukraina menembak jatuh pesawat nahas itu karena mengira itu adalah pesawat militer Rusia yang terbang di langit Ukraina. Beberapa menyatakan bahwa pemerintah Ukraina telah menetapkan wilayah udara di bagian timur Ukraina adalah zona "operasi anti teroris" dan menuntut semua pesawat sipil yang terbang di atas wilayah itu terbang dengan ketinggian lebih dari 7.900 meter. Kebenaran mengenai hal ini masih tidak jelas. MH17 sendiri terbang jauh diatas ketinggian yang ditentukan dan bisa saja personel militer Ukraina salah dalam membaca ketinggian MH17.

Tapi tuduhan ke Ukraina tampaknya tidak mungkin. Seperti yang disebutkan, MH17 akan terbang ke arah Rusia, sehingga kecil kemungkinan militer atau pemerintah Ukraina memerintahkan untuk menembaknya jatuh. Terlebih lagi hingga saat ini Ukraina belum satupun menembak jatuh pesawat selama konflik berlangsung. Ukraina juga menyerukan penyelidikan internasional atas insiden itu.

Yang kedua adalah Rusia. Seperti diketahui, dalam beberapa hari terakhir Rusia telah mengumpulkan tentara di perbatasan dengan Ukraina. Ukraina juga telah mengklaim bahwa rudal udara ke udara Rusia telah menembak salah satu Sukhoi Su-25 nya pada hari Rabu, dan rudal permukaan ke udara juga telah ditembakkan ke Su-25 lainnya dari wilayah Rusia di hari yang sama. Pada Senin lalu, Kiev juga mengklaim bahwa rudal permukaan ke udara yang ditembakkan dari wilayah Rusia telah menjatuhkan sebuah pesawat angkut militer. Fakta bahwa MH17 terbang dari Ukraina menuju Rusia juga berarti bahwa Moskow bisa saja keliru, mengira pesawat sipil itu adalah pesawat musuh.

Namun, Rusia diyakini memiliki kemampuan ISR (intelijen, pengawasan, dan pengintaian) yang baik, dengan demikian kecil kemungkinannya Rusia salah menilai MH17 adalah pesawat musuh. Selain itu, Moskow juga telah membantah semua tuduhan Ukraina terkait insiden dua Su-25 dan pesawat angkut militer, dan bahkan muncul pemberitaan yang menyatakan separatis Ukraina lah yang telah mengaku bertanggung jawab atas insiden ketiga (pesawat angkut militer).

Yang ketiga adalah separatis pro-Rusia di Ukraina timur. Beberapa pejabat pemerintah Ukraina menuduh separatis pro-Rusia di Ukraina Timur yang telah menembak jatuh MH17. Dinilai dari insiden-insiden selama konflik, mereka memang pihak yang paling mungkin berada di balik insiden itu. Para pemberontak sudah biasa menargetkan pesawat militer Ukraina yang terbang di atas wilayah yang mereka kuasai tersebut. Selain itu, mengingat kemampuan ISR mereka yang terbatas, merekalah yang paling mungkin salah mengira MH17 adalah pesawat angkut militer Ukraina. Juga mengingat pesawat ini terbang dari barat ke timur, atau dengan kata lain terbang dari wilayah udara Ukraina menuju timur Ukraina.

Ada pula bukti lain yang menguatkan pemberontak terlibat dalam insiden jatuhnya MH17. Muncul Tweet yang menampilkan screenshoot dari laporan sebelumnya di mana para pemberontak di timur Ukraina mengklaim telah menembak jatuh sebuah pesawat angkut militer Ukraina. Laporan ini sudah dihapus, namun cukup menguatkan bukti bahwa pemberontak Ukraina lah yang menembak jatuh MH17 karena mereka mengira itu pesawat angkut militer Ukraina seperti Antonov An-26.

Namun ada pertanyaan besar terkait keterlibatan separatis Ukraina dalam insiden MH17, adalah apakah senjata yang mereka miliki memang mampu menembak jatuh pesawat itu. Sebuah catatan dari Stratfor, "Berdasarkan ketinggian pesawat, hanya rudal permukaan ke udara jarak menengah-jauh yang bisa menembak jatuh pesawat itu." Kelompok separatis Ukraina dikabarkan juga telah membantah menembak jatuh MH17, alasannya mereka hanya memiliki sistem pertahanan udara portabel (man) yang tidak dapat ditargetkan untuk pesawat yang terbang di ketinggian 10.000 meter.

Pemerintah Ukraina sendiri mengatakan bahwa BUK-M1 (SA-11), sistem rudal permukaan ke udara lah yang menembak jatuh MH17, dan disebutkan juga Rusia telah menyediakan sistem rudal ini untuk separatis pro-Rusia di timur Ukraina. Seorang wartawan Associated Press di Ukraina Timur juga mengaku telah melihat para pemberontak menggunakan sistem rudal BUK di wilayah tersebut, yang dapat menembak jatuh target yang terbang di ketinggian 22.000 meter.

Sumber intelijen Amerika Serikat seperti dilansir IHS Jane mengonfirmasi bahwa MH17 ditembak oleh rudal permukaan ke udara, dan seorang mantan ahli pertahanan udara Soviet dan Ukraina di Kiev mengatakan kepada IHS Jane bahwa rudal ini adalah BUK yang dikendalikan oleh pemberontak pro-Rusia di timur Ukraina
.
Menurut seorang spesialis intelijen NATO, kelompok separatis meyakini bahwa mereka telah menembak jatuh sebuah pesawat angkut militer Ukraina. Namun ketika mereka mengetahui bahwa itu adalah pesawat sipil Malaysia mereka panik, lalu menghapus semua posting di sosial media terkait insiden itu, kata sumber NATO.

Dengan demikian, skenario yang paling mungkin adalah separatis pro-Rusia di Ukraina timur lah yang menembak jatuh MH17 dengan menggunakan senjata anti pesawat Rusia. Insiden ini bisa menjadi alamat buruk bagi Rusia, dan lebih buruk lagi bagi para pendukungnya di Ukraina timur. Insiden ini akan menggembleng masyarakat internasional untuk bersama-sama memberikan dukungan bagi pemerintah Ukraina untuk mengalahkan pemberontak, serta meningkatkan tekanan kepada Rusia agar berhenti memberikan dukungan kepada pemberontak di Ukraina timur. (Diplomat).

Gambar: Leonidl/Wiki Common

Inggris Upgrade 59 Tornado GR4

Tornado GR4 RAF

Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) berencana menyelesaikan upgrade teknologi 59 pesawat tempur Tornado GR4 pada tahun 2016, sebagai bagian dari rencana modernisasi untuk menjaga Tornado tetap relevan sampai F-35 JSF dan Eurofighter Typhoon datang, kata seorang pejabat RAF saat Farnborough International Airshow di Inggris.

Pekerjaan upgrade akan melengkapi Tornado dengan senjata presisi, peningkatan sistem pertukaran data dan teknologi komunikasi yang aman, kata Dave Waddington, Tornado Force Commander, RAF, dilansir laman Flight Global.

Meskipun saat ini sudah ada delapan pesawat Tornado upgrade (baru-baru ini bertugas di Afghanistan), RAF berencana meng-upgrade lebih banyak lagi agar relevan hingga awal 2019, dimana saat itu F-35 dan Eurofighter Typhoon RAF sudah banyak, kata Waddington.

Waddington mengatakan bahwa Tornado akan pensiun pada 2019, kecuali Departemen Pertahanan mengkaji ulang. 

"Masa depan Angkatan Udara Kerajaan Inggris adalah F-35 dan Typhoon," kata Waddington. "Tapi (Tornado) tetap penting untuk RAF. (Upgrade) Ini akan memastikan Tornado tetap relevan."  
Enam Tornado pertama selesai di-upgrade pada bulan Maret tahun lalu dan RAF menginginkan upgrade 59 Tornado selesai pada bulan Maret 2016.

Tornado GR4 adalah pesawat tempur dua kursi yang telah dioperasikan selama lebih dari 30 tahun dan terakhir diproduksi pada tahun 1998. Pesawat dengan panjang 17 meter itu bisa terbang dengan kecepatan Mach 1,3 (1.592 km/jam) dan ketinggian 50.000 kaki (15,2 km).

Selain itu, Tornado dapat terbang secara otomatis jika visi kabur akibat cuaca buruk dengan menggunakan radar yang penyisir medan, kata pejabat RAF.

Tornado GR4 RAF

Tornado GR4 RAF

Upgrade senjata presisi akan membuat Tornado mampu menembakkan Paveway IV, bom pandu laser dan GPS buatan Raytheon.

"Kemampuan bom presisi merupakan kunci Tornado. Ini akan memberikan kita kemampuan untuk menyerang target dengan presisi yang diinginkan. (Tapi) Ini bukan hanya tentang senjata itu sendiri, elemen kuncinya adalah integrasi," Waddington menjelaskan.

Komunikasi radio yang aman juga merupakan bagian integral dari upgrade yang akan memungkinkan awak Tornado berkomunikasi secara aman satu sama lain atau dengan pasukan sekutu.

"Ini akan memberikan kita kemampuan untuk berkomunikasi secara aman dengan sekutu kami, dan anti jamming," tambahnya.

Sistem pertukaran data digital yang disebut "Link 16" juga merupakan bagian dari upgrade Tornado, yang memungkinkan awak Tornado berbagi informasi tempur yang relevan seperti data penargetan. Link 16 adalah sistem yang juga paling banyak digunakan pesawat AS.

"(Sistem) Komunikasi yang aman akan memungkinkan awak udara berkomunikasi dengan forward air controllers dan tactical air controller di darat dalam cara yang dapat diandalkan, artinya ketika mereka sudah sampai disana (tujuan) mereka sudah tahu yang harus dilakukan tanpa perlu (menunggu) menghabiskan waktu 10 atau 15 menit untuk memahami lokasi target atau situasi medan," Waddington menjelaskan.

Jika medan sudah dipahami dengan cepat, maka kru Tornado dapat lebih cepat dalam menyebarkan kekuatan apapun yang diperlukan, tentunya dengan cara yang aman dan berhati-hati untuk menghindari serangan terhadap kawan, Waddington menambahkan.

Gambar: USAF

[Foto] F-16 Menimpa F-16 Lainnya di Pangkalan Udara AS

F-16 menimpa F-16

Foto di atas menunjukkan sebuah F-16 menimpa Fighting Falcon lainnya di Pangkalan Angkatan Udara Davis Monthan, Arizona, Amerika Serikat, Minggu, 13 Juli 2014.

Penyebabnya bukan karena jatuh dari udara, tapi hujan badai dengan hembusan angin 106 km per jam lah yang menyebabkan F-16 40 ribu pound ini menimpa F-16 lainnya.

Keduanya memang bukan F-16 aktif, melainkan sudah pensiun. Lokasi kejadian memang merupakan tempat penyimpanan F-16 pensiun, peralatannya pun sudah dipreteli. Kabel baja pengaman yang tertanam di gurun tercabut akibat hembusan angin yang kencang.

"Untungnya, pesawat yang masih aktif aman atau tidak ada kerusakan," kata Letnan Kolonel John Tryon dari USAF dilansir situs jrn.com.

Selain itu, hembusan angin yang kencang juga merobohkan pohon, menerbangkan atap bangunan dan membuat tiang listrik patah, Tryon menjelaskan.

Gambar: USAF

Fakta: Korut Memiliki Kapal Selam Terbanyak di Dunia

USS Georgia

Untuk membandingkan kekuatan militer negara-negara di dunia, jumlah persenjataan, personel, anggaran militer, dan faktor-faktor lainnya harus diperhitungkan. Agar lebih sederhana, kita gunakan data dari laman Global Firepower, yang merilis indeks kekuatan militer dari 106 negara berdasarkan 50 faktor, termasuk di dalamnya jumlah senjata, personel dan anggaran militer. Indeks dirilis pada April 2014.

Negara yang menempati peringkat teratas untuk total kekuatan militer tetap tidak berubah dari tahun lalu, yaitu Amerika Serikat, disusul Rusia, China dan India. Korea Utara sendiri berada di peringkat 35, jauh dibawah beberapa negara di kawasan Asia Tenggara. Namun yang menarik adalah Global Firepower juga merilis daftar negara dengan kekuatan kapal selam terbanyak, yang menempati peringkat teratas ternyata Korea Utara dengan 78 kapal selam, membawahi Amerika Serikat, China dan Rusia yang masing-masing 72, 69, dan 63 kapal selam.

Indeks ini sendiri memang fokus pada kuantitas bukan pada kualitas, tidak ada perbedaan antara kapal selam bertenaga nuklir dan diesel, juga tidak memperhitungkan jenis (serang, berkemampuan nuklir, dll), dan usianya. Artinya jika sebuah negara memiliki 2 kapal selam nuklir canggih, peringkatnya akan berada di bawah negara yang memiliki 3 kapal selam diesel, meskipun kemampuan 3 kapal selam diesel tersebut kalah jauh dari kapal selam nuklir, dan bahkan merupakan kapal selam dari era Perang Dunia II. 

Negara dengan kapal selam terbanyak
Diluar negara-negara ini tidak dilaporkan memiliki kapal selam militer. (Data: Global Firepower)
Meskipun yang terbanyak, sebagian besar kapal-kapal selam Korea Utara ini dalam kondisi kritis dan layak pensiun. Sepertiganya adalah kapal selam dari Kelas Romeo, kapal selam bising yang tidak lagi diproduksi Uni Soviet sejak tahun 1961. Jangkauan tembaknya pun ditaksir hanya dikisaran empat mil, berbeda jauh dengan kapal selam canggih Amerika Serikat yang memiliki jangkauan tembak ratusan mil. Sedangkan kapal selam terbanyak yang dimiliki Korea Utara adalah kapal selam Kelas Sang-O, jumlahnya sekitar 40 unit lebih, juga sebagai kapal selam terbanyak yang dibangun oleh Korea Utara.

AS Resmi Serahkan F-16 C/D 52ID ke Indonesia

F-16 TNI AU di Hill AFB

Tiga buah dari total dua lusin pesawat tempur F-16 C/D 52ID telah diserahkan oleh pemerintah Amerika Serikat kepada pemerintah Indonesia di hangar Flight Test Facility Hill AFB, Senin, 14 Juli 2014.

Pihak Amerika Serikat diwakili oleh acting chief F-16 International Branch, Dr. Chalon Keller, menyerahkan tiga pesawat F-16 C/D 52ID kepada Atase Udara RI Kol Pnb Beni Koessetianto yang mewakili Indonesia.

Ketiga pesawat terdiri dari dua pesawat F-16 D (kursi ganda) dengan nomor ekor TS-1620 dan TS-1623, serta sebuah pesawat F-16 C (kursi tunggal) dengan nomor ekor TS-1625. Pengadaan 24 pesawat F16 C/D-52ID dalam Proyek "Peace Bima Sena II" ini merupakan kerjasama antara pemerintah AS dan Indonesia berdasarkan kontrak yang ditandatangani pada 2012 lalu.

Turut hadir pula dalam acara penyerahan ini Komandan Hill AFB, Maj. Gen Brent Baker, perwakilan dari 309 AMXG, perwakilan dari Kellstrom Industry, BAE System, Northrop Grumman, Indonesian F-16 program office, Mayor Tek Subagyo, serta Komandan Skadron Udara 3 Letkol.Pnb.Firman "Foxhound" Dwi Cahyono beserta dua orang penerbang yaitu Mayor.Pnb.Anjar "Beagle" Legowo dan Mayor Pnb.Bambang "Bramble" Apriyanto. Acara berlangsung khidmat dan ditandai dengan penandatanganan berita acara penyerahan yang dilanjutkan dengan konferensi pers dengan media lokal.

Dalam kesempatan ini pula untuk pertama kalinya para penerbang Skadron Udara 3 melihat tampilan luar dan kokpit F-16 C/D Block 52 ID yang nampak baru, dengan hampir semua peralatan dan layar penunjuk baru. Para penerbang mendapat penjelasan saat diberi kesempatan melihat pengerjaan pesawat-pesawat lain yang sedang diregenerasi setelah acara serah terima bahwa dibutuhkan kurang lebih 17.500 man-hour untuk mengerjakan pesawat pertama karena baru kali ini Depo Regenerasi dan Lockheed Martin melakukan upgrade mengganti sistem avionik pesawat Block 25 dengan Block 52. Untuk pengerjaan pesawat kedua dan selanjutnya hanya dibutuhkan 15.000 man-hour atau mungkin kurang setelah pabrikan mendapatkan road map pengerjaan pesawat. Acara kemudian ditutup dengan refreshment dan berakhir pukul 15.00 waktu setempat.

Sebelumnya Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau), Marsekal TNI I.B Putu Dunia didampingi Atase Udara RI di Washington DC, Kol Pnb Benedictus B Koessetianto dan Technical Liaison Officer Mayor Tek. Subagyo telah melaksanakan kunjungan kerja selama 2 hari di Depo Regenerasi Hill AFB, Utah, pada tanggal 4-5 April 2014. Dalam kesempatan tersebut Kasau melaksanakan inspeksi ke hangar tempat regenerasi pesawat dilaksanakan. Kasau juga melihat langsung pesawat pertama (TS 1625) yang telah selesai melaksanakan upgrade dan modifikasi.

Menjelang penyerahan, enam penerbang menjalani ground training di Tucson ANG Base Arizona. Selama menjalani kegiatan ground training baik di kelas maupun di simulator mereka mendapatkan bahwa metode yang diterapkan sangat efektif. Pelajaran di kelas dan pelatihan di simulator ditekankan kepada pendalaman avionik apa saja yg di-upgrade serta penggunaannya dalam penerbangan. Simulator di sini ada dua macam, yaitu simulator untuk Block 25 dan simulator untuk Block 42. Pelatihan para penerbang TNI AU menggunakan simulator Block 42 karena dinilai lebih mendekati kemampuan Block 52 ID. Kegiatan di simulator terdiri atas familiarisasi kokpit dan avionik, prosedur normal dan prosedur emergency, Air To Ground (Serangan darat) dan Air To Air (Pertempuran Udara) yang meliputi Basic Intercept, Air Combat Tactic 2 v 2 dan 2 v 4. Tujuannya untuk mengasah kemampuan dalam menggunakan sistem avionik dan HOTAS (Hand On Throttle And Stick), sehingga penerbang akan mahir menggunakan pesawat dalam pertempuran tanpa memindahkan tangan dari kemudi.

Selanjutnya pada tanggal 15 Juli dua orang penerbang TNI AU akan ikut dalam penerbangan ferry jarak jauh tiga pesawat pertama yang akan dikirim ke Indonesia. Rencananya dua pesawat F-16 D dengan nomor ekor TS-1620 diawaki oleh Col.Howard Purcell (Komandan 162 Fighter Wing)/Letkol.Firman Dwi Cahyono dan TS- 1623 diawaki Ltc. Erik Houston/Mayor. Anjar Legowo serta sebuah pesawat F-16 C  dengan nomor ekor TS 1625 diawaki oleh Maj. Collin Coatney.

Selama perjalanan ketiga pesawat akan terbang melintasi Samudera Pasifik dengan mengikuti pesawat tanker KC-135 milik USAF sebagai pesawat untuk "air refueling" atau pengisi bahan bakar di udara. Rencananya penerbangan dimulai tanggal 15 juli 2014 dengan lepas landas dari Hill AFB, Utah, pada pukul 11.00 menuju Eilsen AFB Alaska (4 jam 23 menit), selanjutnya tgl 17 Juli Dari Eilsen AFB Alaska menuju Andersen AFB Guam (9 jam 40 menit) dan leg terakhir tanggal 20 Juli dari Guam langsung menuju Lanud Iswahjudi Madiun (5 jam 16 menit). Ketiga pesawat direncanakan akan mendarat di Madiun pukul 11.16 pada hari Minggu, 20 Juli 2014.

Keenam instruktur penerbang selanjutnya mulai bulan Agustus akan melanjutkan latihan terbang konversi F-16 C/D nya di Lanud Iswahjudi Madiun dibawah supervisi para instruktur penerbang dari USAF (Mobile Training Team).

Saat ini konfigurasi awal pesawat F16C/D-52ID tidak dilengkapi dengan drag chute (rem payung) sehingga untuk menyesuaikan dengan kondisi Indonesia maka pesawat-pesawat ini direncanakan akan menjalani modifikasi pemasangan peralatan drag chute yang dilakukan teknisi TNI AU dibantu personel Lockheed Martin pada kuartal pertama 2015.

Dilengkapi sistem avionik dan senjata udara modern serta kemampuan daya jangkau operasi lebih dari 700 km, maka pesawat ini sudah cukup memadai untuk menghadang penerbangan gelap atau menghantam sasaran baik siang atau malam disemua tempat di luar atau dalam wilayah kedaulatan Indonesia dan secara signifikan meningkatkan kemampuan jajaran tempur TNI AU dalam manajemen perang udara modern. Harapannya pada saat pesawat tempur masa depan IFX sudah bisa dioperasikan, maka TNI AU bisa menerapkan berbagai prosedur, taktik, pengalaman dan ilmu pengetahuan yang didapat dari pengoperasian pesawat F-16 C/D 52ID ini sehingga bisa menyamai dan bahkan mengungguli kekuatan udara calon lawan dan pesaing Indonesia. Pengalaman dan pemahaman dari aplikasi penggunaan teknologi perang udara modern yang didapat dalam pengoperasian F-16 CD 52ID akan membantu TNI AU dalam memperbaiki perencanaan, pengadaan, pelatihan serta doktrin dan taktik perang udara TNI AU sehingga mampu menjadi tulang punggung kekuatan dirgantara nasional.

Upgrade yang tidak main-main

Pelaksanaan regenerasi meliputi structural/airframe upgrade pesawat Block 25 hingga mencapai masa usia pakai (service life) optimal. Disisi lain modernisasi avionik dan mesin pesawat akan meningkatkan kemampuannya menjadi setara dengan F-16 Block 52. Seluruh mesin pesawat tipe F100-PW-220/E menjalani upgrade sehingga menjadi baru kembali.

Seluruh pesawat menjalani upgrading dan refurbished rangka airframe serta sistem avionik. Rangka pesawat diperkuat, kokpit diperbarui, jaringan kabel dan elektronik baru dipasang, semua sistem lama di rekondisi menjadi baru dan sistem komputer baru ditambahkan agar pesawat lahir kembali dengan kemampuan jauh lebih hebat.

Upgrade pesawat F-16 C/D 52ID ini tidak main-main karena mengejar kemampuan setara dengan Block 52, terutama pemasangan Mission Computer MMC-7000A versi M-5 yang dipakai Block 52+, Improved Data Modem Link 16 Block-52, Embedded GPS INS (EGI) Block-52 yang menggabungkan fungsi GPS dan INS, Electronic Warfare Management System AN/ALQ-213, Radar Warning Receiver ALR-69 Class IV, Countermeasures Dispenser Set ALE-47 untuk melepaskan Chaff/Flare. Sedangkan kemampuan radar AN/APG-68 (V) ditingkatkan agar mampu mendukung peralatan dan sistem baru yang dipasang.

Dalam operasi udara niscaya kemampuan pesawat ini cukup handal, untuk urusan pertempuran udara mampu membawa rudal jarak pendek AIM-9 Sidewinder P-4/L/M dan IRIS-T (NATO) serta rudal jarak menengah AIM-120 AMRAAM-C, sehingga pesawat F-16 C/D 52ID TNI AU tidak kalah dengan pesawat F-16 C/D Block 50/52. Sedangkan untuk sasaran darat dan perairan, pesawat ini membawa persenjataan kanon 20 mm, bom standar MK 81/82/83/84, Laser Guided Bomb Paveway, JDAM (GPS Bomb), Bom anti runway Durandal, rudal AGM-65 Maverick K2, rudal AGM-84 Harpoon (anti kapal), rudal AGM-88 HARM (anti radar). Sedangkan peralatan Improved Data Modem Link 16 memungkinkan penerbang melakukan komunikasi tanpa suara hanya menggunakan komunikasi data dengan pesawat lain atau radar darat, radar laut atau radar terbang.

Yang paling penting, pesawat dilengkapi peralatan pemandu navigasi yang terbaru memadukan INS/GPS sehingga akurasi sangat tinggi. Head Up Display layar lebar terbaru akan dipasang yang kompatibel dengan Helmet Mounted Cueing System dan Night Vision Google yang akan menjadi kelengkapan. Pesawat juga akan dilengkapi navigation dan targeting pod canggih seperti Sniper/Litening untuk operasi tempur malam hari seperti layaknya siang disamping mampu melaksanakan misi Supression Of Enemy Air Defence (SEAD) untuk menetralisir pertahanan udara musuh.

Selain pengadaan 24 pesawat F-16, kontrak kerjasama juga meliputi pengadaan spare parts, ground support equipment, training, JMPS (Joint Mission Planning System), RIAIS (Rackmount Improve Avionic Intermediate System), AME (Alternate Mission Equipment) dan PMEL (Precision Measurement Equipment Laboratory).

Sumber: TNI AU
Gambar: TNI AU

AS akan Jual 600 Rudal Sidewinder ke Israel di Tengah Krisis Gaza

Rudal AIM-9X Sidewinder pada F-15C Eagle USAF

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah menyetujui kemungkinan penjualan rudal AIM-9X Sidewinder dan peralatan terkait kepada Israel, laman Air Force Technology melaporkan.

Pemerintah Israel sebelumnya telah mengajukan permohonan pembelian 600 rudal AIM-9X-2 Sidewinder Block II, 50 rudal pelatihan udara CATM-9X-2 dan empat rudal dummy (kosong).

Paket penjualan rudal yang senilai USD 544 juta itu, sudah termasuk peralatan pendukung dan alat uji rudal; suku cadang dan peralatan perbaikan; pelatihan dan peralatan pelatihan personel; dan logistik dan dukungan terkait.

Perusahaan pertahanan AS Raytheon Missile Systems bertindak sebagai kontraktor utama dalam program penjualan rudal kepada Israel ini.

AIM-9 Sidewinder adalah rudal udara ke udara jarak pendek dengan pelacakan inframerah canggih. Rudal ini kompatibel dengan pesawat tempur F-15, F-16, F/A-18 dan F-4, pesawat serang A-4, A-6 dan AV-8B, dan helikopter AH-1 Cobra.

Pada Juni lalu, Raytheon memenangkan kontrak untuk memasok 485 rudal AIM-9X Block II untuk Angkatan Laut Amerika Serikat, Angkatan Udara dan Angkatan Pertahanan Singapura, Belanda, Kuwait dan Turki.
Permintaan Israel atas rudal ini datang bersamaan dengan serangan udara Angkatan Udara Israel di Jalur Gaza, Palestina.

Serangan udara tersebut dikabarkan telah menewaskan lebih dari 175 warga Palestina, melukai ribuan dan membuat ribuan warga Palestina lainnya mengungsi.

Pada hari Senin lalu, Menteri Pertahanan Israel Moshe Yaalon mengatakan telah menembak jatuh sebuah pesawat tak berawak yang diluncurkan dari Gaza, dengan sistem pertahanan udara Patriot di dekat kota Ashdod.

Gambar: Rudal AIM-9X Sidewinder melekat di sisi kiri sayap pesawat tempur F-15C Eagle Angkatan Udara AS. Foto: TSgt. Michael Ammons, USAF.
HOME
▲ Back To Top
NEWSLETTER

Masukkan email pada form di bawah ini lalu klik 'SUBMIT'. Setiap artikel terbaru akan kami kirimkan ke email Anda.


Sebagian besar kematian tempur di Perang Napoleon, Perang Dunia I dan Perang Dunia II disebabkan oleh artileri. Stalin menyebut artileri sebagai "God of War". Namun, ini hanya blog yang bernama ARTILERI.


  • facebook
  • twitter
  • google plus
  • rss