Latest Post

Mengapa Rusia Menggunakan 3 Jenis Jet Tempur Baru yang Mirip?

Su-35

Angkatan Udara Rusia telah memperkenalkan tiga jet tempur baru. Bukan jet tempur siluman Sukhoi T-50 yang ramai dipublikasikan beberapa tahun belakangan, tapi tiga varian berbeda dari Flanker klasik Sukhoi Su-27. Ketiga varian jet tempur baru itu masih mengandalkan desain hasil rancang Biro Desain Sukhoi, hanya saja pembangunannya dilaksanakan oleh dua produsen jet tempur yang berbeda, yaitu KnAAPO dan Irkut.

Hal ini sebenarnya cukup aneh dan berpotensi pemborosan. Berbeda dengan Angkatan Udara AS yang hanya fokus membeli satu jenis pesawat tempur baru, yaitu F-35 Joint Strike Fighter. Angkatan Udara AS menginginkan sebanyak 1.763 unit F-35A untuk menggantikan sebagian besar jet tempur yang ada saat ini, yang dalam teorinya untuk meningkatkan efisiensi persenjataan.

Sebaliknya, Rusia membeli beberapa lusin jet tempur baru yang terdiri dari Su-30M2, Su-30SM dan Su-35S yang ketiganya masih berdasarkan desain dari Su-27 yang dikenal oleh NATO sebagai Flanker. Hingga saat ini Rusia belum menjelaskan maksud pembelian atau pengembangan varian-varian baru Sukhoi ini, namun analis menilai bahwa pembelian ini salah satunya dimaksudkan untuk menjaga keberlangsungan produksi kedua pabrik tersebut ditengah merosotnya ekspor jet tempur Rusia.

Rusia giat mengembangkan varian Sukhoi untuk memenuhi kebutuhan angkatan udaranya, yang mana saat ini sebagian besar terdiri dari pesawat dari tahun 1980-an. Namun karena pengembangan sang siluman T-50 selalu mendominasi berita utama, tanpa disadari pengenalan 3 jet tempur baru ini tenggelam.

Dari ketiganya, Su-30M2 adalah yang pertama yang bergabung dengan Angkatan Udara Rusia, yaitu pada akhir tahun 2012 untuk menjadi bagian dari Pangkalan Udara 6972 di Krymsk di wilayah selatan Krasnodar.

Tiga Su-30SM pertama tiba di Pangkalan Udara 6982 di Domna pada bulan November 2013. Pangkalan yang berbasis di Siberia ini memperoleh 10 Su-30SM hingga akhir tahun 2013. Pada tahun ini, 10 unit lagi dijadwalkan akan diterima untuk melengkapi satu resimen penuh.

Sementara itu, Februari lalu Su-35S operasional pertama mulai bergabung dengan 23rd Fighter Aviation Regiment di Pangkalan Udara 6883 di Dzemgi, di wilayah Khabarovsk  di timur jauh Rusia.

Su-30M2

Su-30M2 dinilai sebagai yang tercanggih dari seluruh varian Su-30. Jet ini merupakan turunan dari Su-30MKK multiperan yang dikembangkan untuk China oleh KnAAPO, yang berbasis di timur jauh Rusia.

Su-30MKK bisa dikatakan merupakan upgrade dari Su-30 interseptor dua kursi, meskipun tidak lebih canggih dari saingannya Su-30MK buatan Irkut. Su-30MKK mampu air refueling, avionik memberikannya kemampuan multiperan, namun tidak memiliki canard foreplanes dan thrust-vectoring control engines seperti halnya Su-30MK dari Irkut.

Setelah memperoleh banyak pesanan dari China - kemudian ditingkatkan lagi dengan kemampuan anti kapal - KnAAPO kemudian menjual turunan Su-30MK2 ke Vietnam, Indonesia, Venezuela, dan Uganda. Pengenal varian ekspor Su-30MKK/MK2 dan Su-30M2 dengan varian yang digunakan oleh Rusia terletak pada tailfin kembar datar di atasnya.

Moskow mulai membeli Su-30M2 pada musim panas 2009. Jet ini memiliki banyak kesamaan dengan Su-27SM3, jet tempur satu kursi buatan KnAAPO dengan avionik upgrade.

Kementerian Pertahanan Rusia memesan empat Su-30M2 bersama dengan 12 Su-27SM3, dan bisa diasumsikan bahwa sang dua kursi Su-30M2 dimaksudkan untuk mendukung saudara satu kursi mereka dalam urusan pelatihan tempur atau mungkin untuk misi yang kompleks. Order Rusia untuk Su-30M2 diketahui sebanyak 20 pesawat.

Su-30SM

Penampilannya juga sangat mirip dengan Su-30M2, Su-30SM adalah produk dari pabrik saingan KnAAPO yaitu Irkut Corporation, yang berbasis di Irkutsk di Siberia dan juga merupakan bagian dari United Aircraft Corporation yang mengkonsolidasikan seluruh pabrik pesawat Rusia.

Su-30SM tampaknya bisa kita lihat sebagai turunan Su-30MK versi Rusia, salah satu produk unggulan Irkut di pasar ekspor dengan menjualnya kepada India, Malaysia dan Aljazair.

Dibandingkan dengan Su-30MKK dari KnAAPO, Su-30MK memiliki proposisi yang lebih baik, tidak hanya menggabungkan tata letak aerodinamis yang lebih modern, tetapi juga pilihan untuk menggunakan avionik barat. Para pembeli bisa memilih avionik dari Rusia, Ukraina, Prancis, India atau bahkan Israel.

Keunggulan Su-30MK yang juga muncul pada Su-30SM Angkatan Udara Rusia lainnya adalah dua kursi, canard foreplanes dan thrust-vectoring engines, dan terkombinasi dengan fly-by-wire flight control system canggih. Berbeda dengan jet dari KnAAPO, Su-30MK dan Su-30SM yang dibangun Irkut memiliki tailfin yang khas.

Kementerian Pertahanan Rusia memesan Su-30SM pada Maret 2012. Dan pada bulan Desember di tahun yang sama menggandakan order menjadi dua kali lipat dari 30 pesawat. Laporan dari media-media Rusia menyebutkan bahwa 60 jet ini harus segera dikirimkan pada akhir 2015.

Laporan-laporan media pada Februari lalu menyebutkan bahwa Depertemen Pertahanan Rusia berencana untuk menandatangai kontrak tambahan senilai USD 2 miliar untuk pengiriman 40 unit Su-30SM lainnya. Menariknya, sebagian (tidak semua) pesawat-pesawat ini dikabarkan akan bisa beroperasi dengan Angkatan Laut Rusia, dengan pesawat pertama kemungkinan akan tiba sebelum akhir 2015.

Dibandingkan dengan Su-30MKI, sang "Rusianisasi" Su-30SM mengganti avionik India dan Israel dengan avionik Rusia sendiri. Namun, sebagian besar avionik asli Perancis temasuk head up display dan sistem digital tidak diganti.

Sementara Su-30M2 menggunakan radar N001V -evolusi dari radar standar Su-27-, Su-30SM menggunakan radar N011M Bars-R yang lebih canggih dengan passive electronically scanned array. Satu lagi yang bisa dibandingkan dengan Su-30MK adalah pada kursi ejeksi. Kursi ejeksi pilot Su-30SM lebih kuat mengatasi bobot pilot Rusia yang lebih berat.

Su-35S

Su-35 cukup berbeda dari varian Su-30. Ketika Su-30 merupakan keturunan konseptual dari Su-27 Soviet, tapi Su-35 mulai dikembangkan di awal 2000-an.

Untuk meningkatkan kemampuan tempur Su-35S, KnAAPO membuat airframe baru, dan meningkatan avionik dan mesin. Su-35 menggunakan mesin AL-41F1S dengan thrust vectoring, fly-by-wire system canggih, dan perlengkapan optronik baru, canard foreplanes dihilangkan, dan perbaikan pada sisi aerodinamis lainnya yang cukup untuk membuatnya menjadi pesawat super manuver.

Sementara Rusia masih belum memperkenalkan radar active electronically scanned array (AESA) baru - mungkin menunggu T-50 siap -  Su-35S menggunakan radar N135 Irbis.

Seperti halnya Su-30M2 dan Su-30SM Angkatan Udara Rusia, Su-35S awalnya juga ditujukan sebagai jet tempur ekspor. Beberapa tahun belakangan, media terus menghubungkan penjualan Su-35S kepada China, meskipun hingga kini belum ada kesepakatan yang ditandatangani.

Pada tahun 2009, Moskow melangkah sendiri dengan memesan Su-35S untuk angkatan udaranya. Hingga Februari, Moskow sudah menerima 22 unit Su-35. Pengiriman batch pertama 48 Su-35S kemungkinan akan rampung pada 2015 dilanjutkan dengan kemungkinan pesanan 48 unit lagi.

Dengan kemampuan dan peralatan yang canggih, mungkin Su-35S yang paling realistis untuk menjadi tulang punggung kekuatan tempur udara Rusia hingga Rusia cukup memiliki T-50. Su-35S mampu menggunakan rudal udara ke udara RVV-BD yang berjangkauan 200 kilometer. Su-35S juga membuktikan dirinya sebagai pengganti yang layak untuk interseptor MiG-31.

Teka-teki Kekuatan Udara Rusia

Sebenarnya apa alasan Angkatan Udara Rusia menggunakan tiga varian baru Flanker? Jika dinilai, tentunya akan lebih efisien jika Rusia hanya fokus pada satu varian. Tapi kenyataan bahwa persaingan produksi tentang pabrik mana yang seharusnya mendapat order pesawat, mungkin inilah yang menjadi dilema Rusia. Selama varian Su-30 laris manis di pasar eskpor, memiliki dua pabrik (KnAAPO dan Irkut) tampaknya memang tidak akan menjadi masalah. Seperti halnya Su-30M2 yang dinilai sebagai yang paling berpotensi tumbuh di masa mendatang, selain karena kabar menyebutkan bahwa Rusia membeli Su-30M2 hanyalah karena airframe yang berlebih akibat batalnya penjualan kepada China.

Soal kecanggihan, Su-35 memang dapat diandalkan. Mengusung mesin yang lebih powerfull, radar superior, dan peralatan pertahanan diri canggih. Namun di sisi lain, ketimbang Su-35, Su-30SM lebih tersedia untuk pasar, murah dan memiliki keuntungan dua awak, yang cocok untuk misi tempur yang kompleks atau juga pelatihan.

Dan sekarang, penjualan jet tempur Rusia ke asing sedang cekak. Pembeli terbanyak seri Su-30 selama ini adalah India dan China, namun saat ini mereka sudah mampu membuat sendiri Su-30 dengan lisensi Rusia (tidak termasuk China yang memproduksi tanpa izin).

Malaysia juga dikabarkan telah memutuskan untuk sementara tidak menambah armada Su-30MKM guna memenuhi kebutuhan jet tempur multi perannya, juga sempat dikabarkan bahwa Malaysia lebih memilih opsi sewa pesawat. Yang dinilai cukup mungkin adalah Indonesia, yaitu Su-35 untuk menggantikan F-5.

Moskow memesan tiga jet berbeda lebih mungkin ditujukan untuk menopang keberlangsungan produksi pabrik KnAAPO dan Irkut. Dan bilamana Angkatan Udara Rusia mengoperasikan ketiganya tentu akan menarik minat pembeli.

Angkatan Udara Rusia memang sangat membutuhkan jet tempur baru yang banyak. Sedangkan program T-50 belum kunjung selesai, meskipun laporan-laporan media Rusia beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa pesawat siluman ini akan siap diproduksi pada tahun 2016.

Berbeda dengan F-35 Amerika, uji coba T-50 tidak dipublikasikan pada publik. Tapi beberapa waktu sempat bocor kabar (tidak diketahui juga kebenarannya) bahwa desain T-50 sedang dirombak secara signifikan. Jika memang kabar itu benar adanya, tentu jadwal operasional T-50 semakin jauh.

Juga dikabarkan, T-50 awalnya direncanakan untuk diserahkan kepada pusat uji terbang Angkatan Udara Akhtubinsk untuk evaluasi pada tahun ini, tapi kemudian tampaknya meleset ke tahun 2016 yang tentu menjadikannya belum akan siap diproduksi atau dioperasikan  oleh Angkatan Udara Rusia pada akhir tahun 2016.

Skenario terbaik T-50 adalah diproduksi sebanyak 60 untuk dari rentang tahun 2016 hingga 2020, tapi tampaknya sudah bakal meleset. Jika ini terjadi, Angkatan Udara Rusia tentu membutuhkan jet tempur baru sembari menunggu produksi dan kecukupan armada T-50.

Dari ratusan jet tempur garis depan Angkatan Udara Rusia, sebagian besar sudah berumur. Runtuhnya Uni Soviet dan dilanjutkan dengan krisis ekonomi telah menurunkan produksi jet-jet tempur Rusia. Baru dalam beberapa tahun terakhir ini Rusia memiliki sumber daya yang besar untuk membeli banyak jet tempur baru.

Sementara tiga Flanker baru ini merupakan kemajuan yang cukup besar dalam hal kemampuan dibandingkan Flanker pendahulu, pesanan Rusia saat ini masih belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan Angkatan Udara Rusia. Bahkan dengan puluhan Su-30M2, Su-30SM dan Su-35S, armada tempur Rusia sebagian besar masih terdiri dari pesawat tua.

Jumlah MiG-29 juga semakin berkurang. Soal penjualan, versi terbaru MiG-29SMT juga ditolak oleh Aljazair. Petempur kelas berat MiG-31 dinilai memang masih sangat bisa diandalkan di garis depan, tapi mengingat jumlahnya yang sedikit dan upgrade MiG-31BM yang belum menunjukkan peningkatan kemampuan yang signifikan, tentu Rusia membutuhkan jet baru.

Dengan menguapnya rencana upgrade MiG-29 dan upgrade MiG-31 juga tampak tidak akan sesuai harapan (atau mungkin upgrade hanya ditujukan untuk menarik minat pembeli), mungkin inilah salah satu alasan Rusia mengoperasikan beberapa varian sukhoi baru untuk membela langit Rusia untuk jangka panjang.

Apakah Moskow akan terus membeli Su-30M2, Su-30SM, atau Su-35? Kita tidak tahu. Namun yang pasti, masa depan armada tempur udara Rusia sangat tergantung dari nasib proyek T-50. (War is Boring).

Gambar: Toshi Aoki - JP Spotters

Tiongkok Terus Tingkatkan Kerjasama Pertahanan dengan RI

Tingkok Terus Tingkatkan Kerjasama Pertahanan dengan RI

Tiongkok terus melakukan penjajakan peluang-peluang kerjasama di bidang industri pertahanan dengan Indonesia. Penjajakan dilakukan dengan kunjungan Delegasi Tiongkok dari The State Administration for Science, Technology and Industry for National Defense (SASTIND) ke PT. Len dan PT. Pindad di Bandung, Jumat, 22 Agustus 2014. SASTIND adalah badan negara yang membawahi perusahaan industri pertahanan strategis Republik Rakyat Tiongkok.

Kunjungan dipimpin oleh Zhan Chunli, General Director Department fo Military Trade Foreign Affairs SASTIND, dan diikuti perwakilan dari sejumlah industri pertahanan Tiongkok, antara lain CETC, CSOC, CPMIEC, ALIT dan NORINCO.  Kunjungan diawali ke PT. Len dan diterima oleh Abraham Mose, Direktur Utama PT. Len. Usai menerima penjelasan mengenai profil PT. Len dan dilanjutkan dengan diskusi, delegasi Tiongkok berkesempatan meninjau fasilitas produksi PT. Len.

Selanjutnya, delegasi Tiongkok juga mengunjungi PT. Pindad dan diterima langsung oleh Direktur Utama PT. Pindad, Sudirman Said, dan jajarannya. Di PT. Pindad, delegasi Tiongkok berkesempatan meninjau pembuatan panser Anoa. Delegasi Tiongkok juga berkesempatan menjajal panser Anoa dan senapan serbu SS2-V4 buatan PT. Pindad.

Penjajakan peluang kerjasama industri pertahanan oleh industri pertahanan Tiongkok ini dilakukan di sela-sela agenda pertemuan The Third Defence Industry Cooperation Meeting (DCIM) antara SASTIND dengan Kementerian Pertahanan RI yang berlangsung mulai tanggal 21 sampai dengan 22 Agustus 2014 di Jakarta.

The Third Defence Industry Cooperation Meeting merupakan pertemuan rutin tahunan sebagai tindak lanjut dari penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Letter of Intens (LoI) tentang kerjasama industri pertahanan antara Kementerian Pertahanan RI dan SASTIND Tiongkok pada tanggal 22 Maret 2011.

Tindak Lanjut Kerjasama Industri Pertahanan Kemhan RI dan SASTIND

Kemhan RI dan  SASTIND sepakat menindaklanjuti kerjasama di bidang industri pertahanan, peralatan militer dan logistik yang telah ditandatangani tanggal 22 Maret 2014 lalu di Jakarta dalam bentuk Minutes of Meeting (MoM) dan Letter of Intent (LoI).

Kerjasama di bidang industri pertahanan yang ingin dikembangkan diantaranya meliputi pengadaan peralatan militer di bidang-bidang tertentu yang disepakati antar kedua pemerintah dan transfer of technology (ToT) peralatan militer tertentu yang tidak terbatas pada perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifikasi, upgrade dan pelatihan. Selain itu beberapa hal yang ingin dikembangkan yaitu produksi dan pengembangan bersama peralatan militer tertentu serta pemasaran bersama peralatan militer dalam dan/atau di luar negara masing-masing.

Kerjasama industri pertahanan dengan Tiongkok pada dasarnya untuk meningkatkan dan mengembangkan kerjasama saling menguntungkan dalam industri pertahanan masing-masing negara. Hal itu  diungkapkan Dirjen Pothan Kemhan Dr. Timbul Siahaan selaku ketua delegasi Indonesia saat membuka Defence Industry Cooperation Meeting (DICM) ke-3 RI-Tiongkok, Kamis, 21 Agustus 2014, di Kemhan Jakarta.

Melalui kerjasama ini diharapkan akan meningkatkan hubungan bilateral kedua negara, khususnya di bidang industri pertahanan antar kedua negara yang lebih berimbang dalam hal alih teknologi maupun dari segi nilai ekonominya sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemberdayaan segenap kemampuan industri nasional dalam mendukung pemenuhan kebutuhan Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam).

Sementara itu ketua delegasi SASTIND, Zhan Chunli, menyatakan penghargaannya yang tinggi kepada pemerintah Indonesia atas sambutan hangat yang telah diberikan dan juga penghargaan yang tinggi atas kemajuan yang telah dicapai kedua negara dalam pertemuan sebelumnya.

Pertemuan DICM ke-3 yang diselenggarakan mulai tanggal 21-22 Agustus 2014 dan dihadiri perwakilan dari BUMN-IS yang membahas berbagai kemajuan yang dicapai dalam pertemuan DICM ke-2 diantaranya mengenai rudal anti kapal C-705, Defence Electronics Complex of Indonesia (DECI) Program, GCI Radar Project, SEWACO KCR 40, SEWACO KCR 60, UAV Mission System, Precision Guided Bomb (PGB) Project dan AA Gun.

DMC

Jumlah Kapal Selam AS akan Menurun, Bagaimana Bisa Terus Mendominasi Pasifik?

Kapal selam Kelas Virginia AS

Armada kapal selam Angkatan Laut Amerika Serikat saat ini merupakan yang tercanggih di dunia, banyak disebarkan di kawasan Asia Pasifik.

Ketika beroperasi di wilayah konflik internasional, kapal-kapal selam AS akan bertugas mengumpulkan data intelijen, melindungi kapal permukaan dan menerjunkan tim NAVY SEAL dengan kemungkinan terdeteksi kecil.

Namun ada satu hal yang kini menjadi masalah armada kapal selam AS, yaitu usia dan dana. Di tahun-tahun mendatang, jumlah kapal selam serang Angkatan Laut AS akan terus menyusut dari saat ini 55 unit menjadi 41 unit pada tahun 2028, yang rencananya penurunan ini akan diimbangi dengan produksi kapal selam baru. Masalah tampaknya tuntas, namun ketika pada saatnya nanti AS berhasil mengakuisisi 22 kapal selam Kelas Virginia yang masing-masing senilai USD 2 miliar itu pada tahun 2028, ternyata sudah banyak pula kapal selam Kelas Los Angeles yang dibangun antara tahun 1970-1980 an yang sudah pensiun.

Pada tahun 2020, 14 kapal selam rudal balistik Angkatan Laut AS juga perlu diganti. Sampai pada masalah ini, belum seorang pun baik di Kongres AS atau Pentagon yang tahu darimana mereka bisa mendapatkan dana untuk membangun 12 kapal selam pengganti yang taksiran biayanya mencapai USD 95 miliar.

Apakah misi-misi kapal selam AS juga akan menurun seiring penurunan jumlahnya? Sukar untuk menebak efek dari kekurangan kapal selam terhadap misi rutin Angkatan Laut AS, karena kabar misi-misi mereka bukan untuk konsumsi publik. Namun ada juga yang diketahui soal penyebaran armada kapal selam AS selama beberapa tahun terakhir, salah satunya misi rutin ke Laut China Selatan, dimana transit perdagangan AS disini senilai USD 1,2 triliun. Selain itu, laut ini juga menjadi pusat ketegangan dan konflik antara China dengan beberapa sekutu dan mitra AS.

Realitas soal menurunnya kapal selam AS beberapa tahun ke depan tentu akan memicu skeptisisme negara-negara di kawasan Asia Pasifik mengenai apakah AS akan mampu mempertahankan Asia Pasifik sebagai prioritas jangka panjang mereka, sebagaimana yang telah diungkapkan para pemimpin Pentagon.

Keraguan juga muncul akibat anggaran pertahanan AS yang saat ini dalam kondisi sengsara. Kongres AS juga belum menemukan solusi bagaimana mengatasi pemotongan anggaran pertahanan yang secara otomatis sudah menyebabkan AS menurunkan jumlah misi-misi militer dan menurunkan belanja senjata dan peralatan pertahanan. Sekaligus juga berdampak pada pabrik-pabrik kapal AS.

AS berencana mengakuisisi hingga dua kapal selam baru Kelas Virginia baru setiap tahun dan mengganti kapal selam Kelas Ohio yang diasumsikan akan senilai USD 19 miliar. Dana ini tidak kecil, dan jumlah merupakan beberapa kali lipat dana pembuatan kapal AS dalam satu tahun yang rata-rata hanya USD 6 miliar pertahunnya. Seperti yang diungkapkan oleh seorang petinggi militer AS bahwa rencana pembuatan kapal selam masih di atas kertas, belum memiliki dana.

Petinggi-petingi Angkatan Laut AS juga telah menegaskan bahwa jumlah kapal selam mereka akan menurun selama tahun-tahun mendatang. Namun, mereka mengatakan bahwa ada langkah-langkah yang bisa diambil ketika armada kapal selam telah menyusut. Salah satunya adalah dengan memaksimalkan kapal selam yang ada, mereka akan berpatroli lebih lama lagi di laut. Seperti yang diketahui, saat ini sudah banyak kapal permukaan AS yang secara rutin melaut selama tujuh atau delapan bulan, sementara kapal selam serang masih dikisaran 6 bulan.

Juga ada kemungkinan jika pada saatnya terbentur pilihan, Angkatan Laut AS akan mengorbankan misi kapal selam di wilayah lain untuk mendukung Pasifik. Yang mana saat ini armada kapal selam AS yang berbasis di Pasifik adalah 60 persen dari total kapal selam AS.

Terus Mendominasi Pasifik dengan Bantuan Sekutu

Korea Selatan dan Jepang berencana meningkatkan jumlah armada kapal selam mereka secara signifikan. AS juga bekerjasama dengan awal kapal selam dari Australia dan Malaysia, dan juga telah berdialog dengan Thailand terkait keinginan negara ini untuk membangun program kapal selam. Hubungan militer AS dengan Vietnam juga semakin hangat, yang sebelumnya mendapatkan enam kapal selam Kelas Kilo dari Rusia.

AS menilai sebagian besar negara-negara di kawasan Asia Pasifik, mau bekerjasama dalam urusan menjaga kestabilan di wilayah Asia Pasifik, seperti kebebasan navigasi dan penerbangan karena ekonomi global sangat tergantung akan hal ini. Sementara China berbeda dalam pandangan AS, negara ini telah mengumumkan zona indentifikasi pertahanan udara atas Kepulauan Senkaku yang  disengketakan Jepang namun dikelola oleh Jepang, yang disebut China sebagai Kepulauan Diaoyu. Selain juga konflik kecil antara AL China dan AL Vietnam yang juga terkait sengketa wilayah.

Tentunya AS terus berusaha menempatkan aset militer yang besar di wilayah ini, termasuk armada kapal selam, untuk menunjukkan komitmen kepada sekutu dan mitra yang mana wilayah ini telah didominasi AS sejak Perang Dunia II. Selain juga untuk menghalau China yang tampaknya ingin mengambil alih dominasi AS atas Pasifik seiring pembangunan armada angkatan lautnya yang sangat pesat. Tapi pertanyaannya, bagaimana AS bisa meyakinkan sekutu dan mitranya di Pasifik tanpa harus meningkatkan ketegangan dengan China yang memiliki respon kontraproduktif? Sulit dijawab.

Rusia Luncurkan Helm 6B47 untuk Perlengkapan Tempur Ratnik

Helm 6B47 (Ratnik)

Helm 6B47 yang dirancang Rusia sebagai kelengkapan dari perlengkapan tempur 'Ratnik' kini menjalani uji coba yang rencananya akan selesai pada akhir tahun ini. Helm 6B47 adalah helm tempur prajurit yang didesain oleh Central Research Institute for Precision Machine Building (TsNIITochMash) yang diklaim tidak memiliki kesamaan dengan helm apapun di dunia.

Menurut Oleg Faustov, kepala perancang sistem perlengkapan tempur dan militer TsNIITochMash, helm 6B47 tidak hanya cocok digunakan oleh unit infanteri, tapi juga cocok untuk pasukan payung bahkan pasukan khusus.

"Berat helm hanya satu kilogram. Meski lengkap dengan semua atribut defensifnya, berat helm lebih ringan dari helm Amerika, yang lebih kecil namun beratnya 1,5 kilogram," Oleg Faustov menjelaskan kepada koran VPK.

Selain helm dan pakaian, perlengkapan tempur Ratnik terdiri dari 40 item, yang terdiri dari senjata api, sistem pengamatan (sighting), pelindung tubuh, dan sistem komunikasi elektronik dan navigasi. Garansi usia pakai perlengkapan tempur Ratnik adalah lima tahun.

Baca juga: Helm dan Pakaian Cerdas untuk Tentara

Departemen Pertahanan Rusia dan TsNIITochMash rencananya akan segera merampungkan pengujian terhadap helm 6B47 pada akhir tahun ini. Selama uji coba, karakteristik perlindungan dan daya tahannya akan dievaluasi di berbagai kondisi suhu dan cuaca. Helm ini sejatinya harus mampu melindungi prajurit dari temperatur mulai dari -50 hingga 50 derajat dan dari hujan, salju dan bahkan air asin.

Helm ini pertama kali ditampilkan di hadapan publik di stan TsNIITochMash saat pameran Engineering Technologies-2014. Jika uji coba berjalan sesuai rencana, helm ini akan segera digunakan oleh militer Rusia pada awal tahun depan.

TsNIITochMash selama ini berkecimpung dalam desain dan produksi berbagai senjata dan peralatan milter untuk berbagai jenis pasukan. Perusahaan ini telah merancang lebih dari 120 jenis senjata api, artileri, dan senjata anti tank, serta perangkat keras tempur lainnya dan berbagai jenis amunisi.

Gambar: Vitaly V. Kuzmin

BAE Systems Kembangkan 'Kulit Cerdas Manusia' pada Pesawat

Kulit cerdas pada pesawat

BAE Systems, perusahaan pertahanan multinasional Inggris tengah mengembangkan lapisan seperti kulit manusia untuk diterapkan pada badan pesawat. Kulit cerdas ini berfungsi untuk mendeteksi kerusakan dan merasakan lingkungan sekitar pada saat terbang seperti halnya kulit manusia. Kulit cerdas dengan mikro sensor yang seukuran partikel beras ini dapat diaplikasikan pada badan pesawat dengan cara disemprot seperti cat.

Para peneliti di BAE Systems Advanced Technology Centre saat ini masih meneliti konsep kulit cerdas yang terdiri dari puluhan ribu mikro sensor ini, untuk diterapkan pada badan pesawat dengan harapan kemampuan sensornya akan jauh lebih akurat dari teknologi saat ini. Kulit cerdas ini akan membuat pesawat mampu merasakan kecepatan dan suhu angin serta gerakan dan tekanan fisik.

Menurut perusahaan, teknologi ini akan menjadikan pesawat mampu mendeteksi 'kesehatannya' sendiri dan melaporkan bila terjadi kerusakan sebelum kerusakan bertambah parah. Keuntungannya, teknologi ini akan mengurangi pekerjaan pemeriksaan rutin di darat, dan bagian yang rusak bisa segera diganti dengan cepat.

Mikro sensor yang disebut BAE Systems sebagai 'motes' ini seukuran partikel beras atau bahkan partikel debu yang kurang dari satu milimeter. Kulit cerdas ini juga akan memiliki sumber tenaga sendiri dan ketika diintegrasikan dengan perangkat lunak, akan memungkinkan mereka berkomunikasi, mirip dengan bagaimana kulit manusia mengirim sinyal ke otak.


BAE Systems mengatakan bahwa saat ini mereka tengah menjajaki beberapa metode untuk mengaplikasikan mikro sensor ini pada badan pesawat, termasuk dengan metode menyemprotkannya seperti cat. Metode seperti ini dianggap akan membuat sensor lebih mudah diaplikasikan tanpa perlu memodifikasi pesawat secara signifikan.

Seorang juru bicara BAE Systems Advanced Technology Centre mengatakan bahwa untuk melihat teknologi ini mungkin diperlukan waktu sepuluh tahun lagi karena membutuhkan banyak penelitian, seperti halnya pengembangan UAV tempur siluman Taranis oleh Bae Systems.

Peneliti terinspirasi dari peralatan rumah tangga

Ide untuk kulit cerdas pada pesawat ini muncul dari kepala peneliti, Lydia Hyde, ketika ia menggunakan mesin pengering pakaian di rumahnya dan ia melihat mesin itu menerapkan sensor untuk mencegah overheat.

"Dengan mengamati bagian sensor sederhana (pada mesin pengering pakaian) yang berfungsi untuk mencegah alat overheat, membuat saya berpikir bagaimana jika hal ini dapat diterapkan pada pekerjaan saya, dan bagaimana kita bisa menggantikan sensor mahal dengan yang sensor yang murah, lebih kecil dan multi fungsi," kata Hyde seperti yang dilansir di laman resmi BAE Systems.

Hyde menambahkan: "Akhirnya muncullah ide untuk menerapkannya di pesawat, atau pada mobil atau kapal, yang akan dilapisi dengan ribuan motes dalam satu kesatuan kulit cerdas yang mampu merasakan lingkungan di sekitar mereka dan memonitor kondisi mereka dengan mendeteksi stres, panas atau kerusakan. Idenya adalah untuk menciptakan platform yang bisa merasakan melalui kulit sensor dengan cara yang sama seperti manusia atau hewan bisa lakukan."

"Dengan mengkombinasikan output dari ribuan mikro sensor dengan analisis data yang besar, teknologi ini berpotensi menjadi 'game changer' bagi industri Inggris. Di mana di masa depan kita juga akan melihat platform pertahanan yang lebih kuat yang mampu menjalankan misi yang kompleks sementara minim kebutuhan untuk pemeliharaan atau pemeriksaan rutin," tambah Hyde.

Konsep kulit cerdas hanyalah satu berbagai teknologi baru yang saat ini tengah dikembangkan raksasa pertahanan Inggris ini. Awal tahun lalu, BAE Systems juga mengungkapkan sejumlah konsep teknologi masa depan seperti pesawat yang dapat terpecah-pecah menjadi pesawat-pesawat kecil, pesawat yang mampu membuat drone hanya dengan printer 3D, dan pesawat tempur yang mampu memulihkan dirinya sendiri. Konsep kulit cerdas ini sendiri ditujukan agar pesawat di masa depan bisa merasakan kerusakannya dan kemudian memperbaiki dirinya sendiri selama penerbangannya.

Gambar: BAE Systems

Angkatan Udara AS Kandangkan 82 Jet Tempur F-16D

F-16D

Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) mengandangkan sementara 82 jet tempur F-16D Fighting Falcon setelah ditemukannya retak pada canopy longeron sill antara kursi pilot depan dan belakang pada saat inspeksi pasca penerbangan rutin, menurut pernyataan Air Combat Command (ACC) USAF yang dirilis Selasa di Washington.

Akibat penemuan tersebut, sebanyak 157 jet tempur F-16D juga diperiksa oleh inspektor angkatan udara untuk memastikan integritas struktural pesawat dan keselamatan pilot. Hasilnya didapati 82 F-16 mengalami keretakan serupa sedangkan 75 sisanya dinyatakan layak terbang. Hasil pemeriksaan juga menegaskan bahwa varian F-16 lainnya tidak terpengaruh.

Wakil Kepala Divisi Sistem Senjata USAF Letnan Kolonel Steve Grothohn mengatakan: "Sebagaimana jam terbang terus bertambah, keretakan pun muncul akibat penggunaan yang terus menerus. Untungnya, kami memiliki pemeliharaan dan program inspeksi dan integritas struktural yang baik untuk menemukan dan memperbaiki masalah yang terjadi."

Sementara itu, Kantor Program F-16 USAF dan produsen F-16 Lockheed Martin telah bekerjasama untuk menganalisa struktur F-16D dan melakukan prosedur perbaikan agar 82 pesawat tersebut aman diterbangkan untuk sementara waktu sementara prosedur perbaikan permanen masih dipelajari.

F-16 adalah pesawat tempur multiperan yang awalnya dirancang sebagai pesawat superioritas udara di siang hari, tetapi kemudian terus dikembangkan hingga menjadi pesawat siang-malam dan segala cuaca ditambah kemampuan multiperan untuk mendukung misi-misi sulit. Sedangkan F-16D adalah varian dua kursi dari F-16, yang utamanya digunakan USAF untuk melatih personel. Usia rata-rata F-16D saat ini adalah 24 tahun dengan lebih dari 5.500 jam terbang. Saat ini USAF mengoperasikan sebanyak 969 F-16 dari seluruh varian.

Meskipun sudah 40 tahun diproduksi, tapi para pejabat Lockheed Martin masih melihat pasar yang bagus untuk F-16, utamanya adalah untuk upgrade F-16 lama.

Sebelumnya, Amerika Serikat telah menyetujui penjualan 36 unit F-16 kepada Angkatan Udara Irak, termasuk di dalamnya paket pelatihan. Upacara penyerahan dua F-16 pertama kepada Irak dilakukan di markas pelatihan Fort Worth, Juni lalu. AS berencana mengirimkan seluruh pesawat ke Irak pada musim gugur, namun ditunda akibat pengepungan Irak oleh ISIS.

TNI AU akan Terima Radar MSSR 2000 I dari Airbus

MSSR 2000 I

Perusahaan Airbus Defence and Space Eropa mendapatkan kontrak dari SBL Star Technology Pte Ltd, Singapura, untuk menyuplai peralatan pengawasan dan identifikasi pesawat canggih kepada TNI Angkatan Udara, menurut laporan media-media asing (tidak dilaporkan laman resmi kedua perusahaan).

Tertuang dalam kontrak, pihak Airbus Defence and Space akan memberikan dua monopulse secondary surveillance radars 2000 I (MSSR 2000 I) untuk integrasi pada sistem pelacakan dan pengawasan udara mobile yang akan dioperasikan oleh TNI AU.

Radar MSSR 2000 I diharapkan akan meningkatkan kendali TNI AU atas lalu lintas udara dan pertahanan udara di Nusantara.

Kepala Airbus Defence and Space Electronics Business Line, Thomas Muller mengatakan: "Otoritas pengendali lalu lintas udara di seluruh dunia terus menghadapi masalah peningkatan kepadatan lalu lintas udara."

"Termasuk juga lalu lintas udara militer, situasi seperti ini membutuhkan sistem sistem pemandu berkinerja tinggi yang akan menjamin keamanan, pertukaran data yang komprehensif dan alokasi wilayah udara yang efisien. Dengan sistem kami yang sudah dioperasikan di sekitar 30 negara, kami telah membuktikan kemampuan kami dalam menghadirkan solusi yang andal," ujar Muller.

Diklaim sebagai satu-satunya radar sekunder yang bersertifikat sesuai dengan standar kontrol lalu lintas udara terkini, baik sipil maupun militer, sistem MSSR 2000 I akan memberikan gambaran mengenai situasi udara berdasarkan interogasi dan balasan otomatis (automatic reply) dari pesawat secara individual.

Radar MSSR 2000 I yang akan bekerja bersama radar utama ini akan mengirimkan sinyal interogasi sesuai dengan standar Mode S terbaru, yang akan memberikan gambaran posisi pesawat secara real time, memandu semua pesawat, mengeliminasi kebutuhan individual radar target acquisition dan mengumpulkan respon. Semua hal ini akan secara signifikan akan meningkatkan pengawasan dan pengendalian lalu lintas udara.

Selain juga digunakan dalam militer untuk mengidentifikasi teman atau musuh (IFF) secara otomatis demi menghindari kesalahan tembak, MSSR 2000 I juga berkemampuan Mode 5, standar IFF militer terbaru yang akan akan diterapkan kepada seluruh negara NATO.

MSSR 2000 I saat ini diantaranya digunakan pada kapal-kapal Angkatan Laut Jerman, Inggris dan Perancis (pada Mistral), termasuk Amerika Serikat untuk tujuan pengendalian lalu lintas udara sipil. Pengiriman ke TNI AU dijadwalkan akan selesai pada awal tahun depan dengan nilai kontrak yang tidak disebutkan.

Airbus Defence and Space adalah divisi dari Airbus Group yang fokus pada pengembangan dan produksi pesawat militer, sistem dan satelit komunikasi dan sistem elektronik, dan sebagai satu diantara sepuluh perusahan pertahanan terbesar di dunia.

Gambar: Airbus Defence and Space
HOME
▲ Back To Top
NEWSLETTER

Masukkan email pada form di bawah ini lalu klik 'SUBMIT'. Setiap artikel terbaru akan kami kirimkan ke email Anda.


Sebagian besar kematian tempur di Perang Napoleon, Perang Dunia I dan Perang Dunia II disebabkan oleh artileri. Stalin menyebut artileri sebagai "God of War". Namun, ini hanya blog yang bernama ARTILERI.


  • facebook
  • twitter
  • google plus
  • rss