Latest Post

10 Kapal Perang Terbesar di Dunia Tahun 2014

Kelas Kirov Rusia

Sudah menjadi keinginan alami manusia untuk membangun sesuatu yang lebih besar, lebih cepat dan lebih kuat dari yang ada sebelumnya. Dalam dunia militer, pendapat ini benar adanya, selama berabad-abad berbagai negara di dunia berusaha menjadikan militernya yang terkuat dengan persenjataan terkuat dan terbesar, terutama untuk angkatan laut.

Memiliki angkatan laut yang besar telah menjadi simbol kekuatan dan kekuasaan suatu negara. Juga mencerminkan pengaruh negara tersebut di dunia atau juga untuk memuluskan kehendaknya kepada negara atau bangsa lain. Meskipun teknologi kekuatan udara, senjata nuklir dan ruang angkasa di abad 21 ini semakin canggih, namun peran angkatan laut tidak dapat tergantikan. Mengangkut seluruh pasukan ke seluruh dunia, mendominasi wilayah perairan atau sebagai pengirim isyarat politik ke negara lain.

Bermacam-macam kapal telah dibuat angkatan laut dunia. Mulai dari kapal tanker dan kapal pasokan hingga kapal jelajah dan kapal induk. Kapal-kapal seperti ini umumnya berukuran besar dan cenderung menarik perhatian. Terutama kapal induk dan kapal jelajah, kedua jenis kapal ini biasanya dilengkapi dengan senjata dan rudal yang besar dan juga mampu mengangkut banyak pesawat.

Di luar senjata nuklir, memiliki kapal perang yang besar tetap menjadi simbol kekuatan suatu negara. Pada tahun 1906, Angkatan Laut Inggris telah menunjukkannya dengan mengoperasikan HMS Dreadnaught, kapal perang modern pertama yang berukuran besar (panjang 160 meter), serta memiliki kecepatan dan persenjataan yang baik. Inilah yang menjadi tonggak awal pemicu persaingan dunia dalam membangun kapal-kapal perang besar. Hingga saat ini, angkatan-angkatan laut dunia terus bersaing untuk menjadi siapa yang memiliki kapal perang terbesar, terbaik persenjataannya, dan paling canggih.

Jangan bandingkan ukuran kapal-kapal perang besar saat ini dengan kapal-kapal raksasa selama Perang Dunia II. Dalam hal tonase, kapal perang Yamato (72.000 ton) milik Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (sebagai kapal perang terbesar di Perang Dunia II) kalah tonase dari kapal induk 100.000 ton milik Angkatan Laut Amerika Serikat saat ini. Kapal-kapal perang di bawah ini kami urutkan bukan berdasarkan tonase, namun berdasarkan panjangnya. Berikut 10 kapal perang terbesar di dunia tahun 2014.

10. Kelas Izumo (Jepang) - 248 meter

Kelas Izumo
JS Izumo (DDH-183) sesaat setelah diluncurkan (6/8/2013). Gambar: Dragoner JP/Wiki Common
Baru satu kapal Kelas Izumo yang dibangun untuk Angkatan Laut Pasukan Bela Diri Jepang, sedangkan satu kapal lainnya masih direncanakan. Izumo adalah kapal induk helikopter yang tujuan utamanya adalah untuk memburu dan menghancurkan kapal selam musuh. Izumo mampu mengangkut hingga 14 helikopter, 970 personel atau beberapa lusin kendaraan.

Dengan harga per unitnya sekitar USD 1,2 miliar (Rp 14,3 triliun), Izumo merupakan kapal perang terbesar dan tercanggih dibangun oleh Jepang sejak Perang Dunia II. Selain helikopter pemburu kapal selam (helikopter ASW), Izumo kurang dilengkapi dengan persenjataan ofensif, hanya beberapa senjata jarak dekat dan rudal permukaan ke udara untuk tujuan pertahanan dari serangan udara. Pemerintah China menilai bahwa dengan sedikit modifikasi, Izumo juga dapat mengoperasikan jet tempur, seperti jet siluman F-35.

9. Kelas Kirov (Rusia) - 252 meter

Kelas Kirov
Kelas Kirov
Berbeda dengan Kelas Izumo, kapal jelajah tempur (battleship) bertenaga nuklir Rusia dari Kelas Kirov sarat dengan berbagai jenis senjata. Dibangun dan dioperasikan antara akhir 1970-1990-an, hanya empat kapal dari kelas ini yang dibangun. Harga perkiraan saat ini untuk kapal Kelas Kirov adalah sekitar USD 2 miliar (Rp 23,9 triliun). Saat ini hanya satu Kelas Kirov yang beroperasi, tiga saudaranya yang lain sedang dan akan menjalani proses upgrade untuk nantinya kembali beroperasi.

Dalam hal persenjataan, Kirov terbilang sebagai kapal perang yang sangat menakutkan. Membawa rudal permukaan ke udara untuk menembak jatuh rudal dan pesawat musuh, rudal permukaan ke permukaan jarak jauh anti kapal permukaan, serat beberapa macam senjata anti kapal selam. Di awal kehadirannya, ukuran dan persenjataan kapal ini mengejutkan Amerika Serikat. Tidak salah jika setelah Kirov mulai dioperasikan oleh Uni Soviet, Amerika Serikat kemudian kembali 'menghidupkan' kembali dan mengupgrade empat kapal battleship Kelas Iowa era Perang Dunia II untuk mengimbanginya.


8. Kelas Wasp (AS) - 253,2 meter

USS Bataan (Kelas Wasp)
USS Bataan (LHD-5) dari Kelas Wasp saat operasi pelatihan di Samudera Atlantik (17/7/1999)
Selama Perang dunia II, Angkatan Laut dan Korps Marinir AS banyak mendapatkan pelajaran tentang pentingnya kapal khusus untuk mendaratkan pasukan di wilayah musuh. Kemudian AS menginvestasikan uangnya dalam jumlah besar untuk membangun kapal perang yang mampu mendaratkan dan mendukung pasukan di daerah musuh.

Antara tahun 1989 sampai 2009, delapan kapal Kelas Wasp mulai dioperasikan AS dengan harga masing-masing sekitar USD 750 juta (Rp 8,9 triliun). Wasp mampu mengangkut 1.900 marinir, juga mampu mengangkut puluhan pesawat serang, helikopter, tank dan kendaraan lapis baja lainnya. Selain dioperasikan di Timur Tengah dan Asia lainnya, Kelas Wasp juga digunakan AS dalam misi kemanusiaan dan bantuan bencana.


7. Kelas America (AS) - 257 meter

USS America
USS America (LHA-6) kembali ke Mississippi setelah menjalani uji coba laut (9/11/2013)
Seperti halnya Kelas Wasp, Kelas America adalah jenis kapal serbu amfibi yang dibangun oleh Amerika Serikat. USS America, adalah kapal yang pertama dan terbaru dari kelas ini, lebih besar dan lebih canggih dari Kelas Wasp dengan taksiran harga per unit sekitar USD 3,4 miliar (Rp 40,5 triliun), jauh lebih mahal dari kapal serbu amfibi AS sebelumnya.

Dibanding Kelas Wasp, Kelas America mampu mengoperasikan pesawat yang lebih besar, seperti jet tempur F-35 Lightning II dan pesawat transportasi MV-22 Osprey. Kemampuan ini membuatnya tidak berbeda dengan kapal induk kecil. Dalam hal kekuatan, tergantung dari misi yang dijalankan, kapal ini mampu membawa berbagai macam helikopter transportasi, serbu dan serang. Mampu mengangkut hampir 1.700 marinir, juga mampu mengangkut tank, artileri dan kendaraan lainnya.

6. Kelas Charles de Gaulle (Prancis) - 261,5 meter

Charles de Gaulle
Charles de Gaulle saat beroperasi di Samudera Atlantik (11/8/2006)
Menjadi satu-satunya kapal di kelasnya, kapal induk Charles de Gaulle adalah kapal permukaan pertama Prancis yang bertenaga nuklir dan juga sebagai satu-satunya kapal induk bertenaga nuklir yang saat ini dioperasikan diluar Angkatan Laut Amerika Serikat. Setelah pembangunannya sempat tertunda akibat krisis ekonomi, kapal induk ini akhirnya rampung dan ditugaskan pada tahun 2001. Harganya sekitar USD 4 miliar (Rp 47,7 triliun). Selain dilengkapi senjata dan rudal ringan untuk pertahanan, kapal induk Prancis ini mampu mengoperasikan 40 pesawat dan berlayar selama lebih dari 20 tahun tanpa perlu mengisi bahan bakar.

Charles de Gaulle termasuk kapal yang cukup sering bermasalah, mulai dari baling-baling yang patah, konstruksi yang buruk, radioaktif tinggi dari reaktor nuklir dan dek penerbangan yang terlalu pendek untuk dioperasikan pesawat jenis tertentu. Meski demikian, kapal induk ini telah ambil bagian dalam operasi Prancis di berbagai belahan dunia, termasuk perang dengan Taliban di Afghanistan.

5. Kelas Clemenceau - modifikasi (Brazil) - 265 meter

Kapal induk São Paulo Brasil
Kapal induk São Paulo Brasil. Gambar: Netmarine/Wiki Common
Pada rentang tahun 1961-2000, Angkatan Laut Prancis mengoperasikan dua kapal induk Kelas Clemenceau. Ketika pada saatnya Prancis ingin mengupgrade kapal kedua, satu kapal akhirnya dibatalkan sementara yang satu lagi (Foch) dijual kepada Angkatan Laut Brasil pada tahun 2000 seharga USD 12 juta (Rp 143,1 miliar). Oleh Angkatan Laut Brasil, Foch kemudian diberi nama baru yaitu São Paulo.

Sejak dibeli dari Prancis, São Paulo telah banyak mengalami upgrade, termasuk pada dek penerbangan, mesin, sensor dan persenjataan defensif. Tidak susah bagi Brasil untuk mencari kontraktornya, sebagian besar perangkat-perangkat upgrade telah disediakan oleh perusahaan pertahanan Prancis. Belum lama Angkatan Laut Brasil mengoperasikan kapal induk ini, pada tahun 2005 dan 2012 terjadi kebakaran pada kapal, membunuh dan melukai sejumlah awak. Saat ini, kapal yang mampu membawa 39 pesawat (A-4 Skyhawk) ini memiliki kemampuan ofensif.

4. Kelas Kiev - modifikasi (India) - 283,5 meter

INS Vikramaditya
INS Vikramaditya India saat uji coba laut. Gambar: Indian Navy/Wiki Common
INS Vikramaditya adalah satu dari dari dua kapal induk milik Angkatan Laut India. Kapal dari Kelas Kiev yang awalnya bernama Baku ini mulai dioperasikan oleh Angkatan Laut Uni Soviet pada tahun 1987. Pada tahun 1996, di saat ekonomi Rusia carut marut, Rusia tidak lagi banyak menggulirkan dana untuk mendukung pengoperasian senjata-senjata militernya, bahkan sebagian besar banyak yang dijual.

Pada tahu 2004, Baku dibeli oleh India seharga USD 2,35 miliar (Rp 28 triliun). Sebagai bagian dari kontrak pembelian, Rusia setuju untuk mengupgrade kapal sesuai keinginan India dan melengkapinya pesawat buatan Rusia. Upgrade ini termasuk penempatan senjata berat dan menambah ski-jump pada ujung dek penerbangan untuk mengubahnya fungsinya awalnya yang sebagai carrier-cruiser menjadi kapal induk sepenuhnya. Pada tahun 2013, INS Vikramaditya mulai dioperasikan Angkatan Laut dengan kemampuan mengoperasikan 36 pesawat.

3. Kelas Admiral Kuznetsov - modifikasi (China) - 304,5 meter

Kapal induk China Liaoning
Kapal induk China Liaoning
Liaoning adalah kapal induk pertama yang dioperasikan oleh Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China. Kapal induk ini awalnya bernama Riga semasa era Uni Soviet, kemudian pada tahun 1990 berganti nama menjadi Varyag. Kapal induk ini belum pernah dioperasikan oleh Uni Soviet karena konstruksinya belum rampung ketika Uni Soviet runtuh. Karena pembangunannya di lakukan di Ukraina, otomatis kapal induk ini menjadi milik Ukraina setelah runtuhnya Uni Soviet. Namun semua peralatannya sudah dilucuti (kosong).

Pada tahun 1998, China kemudian membeli kapal induk 'kosong' ini dari Ukraina seharga USD 25 juta (Rp 298,2 miliar). Pada tahun 2012, kapal induk ini sudah dioperasikan China dengan nama Liaoning. Liaoning sudah dilengkapi China dengan sistem pertahanan anti rudal, pesawat terbang dan kapal selam, serta mampu mengoperasikan 30 pesawat sayap tetap. Sebagai kapal induk pertama China, Liaoning lebih ditujukan untuk misi pelatihan pilot di kapal induk. Sebelum akhirnya China membangun kapal-kapal induknya sendiri.

2. Kelas Admiral Kuznetsov (Rusia) - 305 meter

Admiral Kuznetsov
Kapal induk Rusia Admiral Kuznetsov
Tidak seperti kapal induk lainnya, kapal induk Rusia era Uni Soviet ini dilengkapi dengan persenjataan berat dan ofensif, antara lain rudal kelas berat jarak jauh anti kapal, puluhan (atau mungkin ratusan) rudal permukaan ke udara dan berbagai bentuk senjata anti kapal selam, selain dari pesawat yang mampu dibawanya. Sesuai dengan persenjataan dan kemampuannya, Kelas Admiral Kuznetsov dianggap sebagai kapal induk jelajah kelas berat sejati.

Admiral Kuznetsov adalah satu-satunya kapal induk dari kelas ini yang yang dimiliki Rusia, satu kapal lainnya telah menjadi miliki China (lihat No.3). Kapal induk ini mulai ditugaskan bersama Angkatan Laut Rusia pada tahun 1990, juga menjadi satu-satunya kapal induk sejati yang dimiliki Rusia. Dalam hal kemampuan mengangkut pesawat, Admiral Kuznetsov mampu mengangkut lebih dari 30 pesawat sayap tetap dan selusin helikopter.

1. Kelas Nimitz (AS) - 332,8 meter

USS Abraham Lincoln (Kelas Nimitz)
USS Abraham Lincoln (Kelas Nimitz) saat operasi latihan di Teluk Alaska (19/4/2012)
Kapal induk dari Kelas Nimitz adalah kapal perang terbesar di dunia saat ini. Dengan harga per unit sekitar USD 4,5 miliar (Rp 53,7 triliun), Nimitz menjadi kapal termahal dari seluruh kapal di daftar ini. Sepuluh kapal Kelas Nimitz telah dibangun oleh Amerika Serikat, memudahkan militernya untuk mendominasi dunia. Selain dioperasikan untuk tugas-tugas militer, kapal induk super 100.000 ton ini juga digunakan untuk bantuan kemanusiaan dan bencana termasuk saat tragedi tsunami di Aceh tahun 2004 dan gempa bumi di Haiti pada 2010.

Nimitz mampu mengoperasikan 85 hingga 90 pesawat (berbagai jenis). Secara substansial kemampuan angkutnya melebihi kemampuan angkut seluruh kapal induk di dunia. Nimitz juga dilengkapi dengan senjata dan rudal sebagai perlindungan dari rudal dan pesawat musuh. Usia pakai Nimitz diperkirakan akan mencapai 50 tahun. Sementara mengantisipasi pensiunnya kapal-kapal Kelas Nimitz (Nimitz yang pertama diluncurkan pada tahun 1972), Angkatan Laut Amerika Serikat juga sudah memulai pembangunan Kelas USS Gerald R. Ford, kapal induk yang lebih besar dari Nimitz dengan perkiraan harga per unitnya USD 9-12 miliar (Rp 107 triliun - Rp 143 triliun).

Australia, Kontroversi Pembelian Kapal Selam dari Jepang

Kapal selam Kelas Soryu Jepang

Langkah Australia yang semakin dekat dengan pembelian hingga 12 kapal selam Kelas Soryu dari Jepang akan menjadi perubahan bersejarah bagi strategi pertahanan nasional dan kebijakan akuisisi militer Australia. Di satu sisi akan meningkatkan hubungan pertahanan Australia dengan Jepang, namun di sisi lain akan membangkitkan kemarahan China.

Jika nantinya memang terjadi, pembelian 12 kapal selam dari Jepang ini akan secara signifikan meningkatkan kekuatan maritim Australia, sekaligus menjadi pembelian persenjataan strategis pertama Australia dari negara Asia.

Kebijakan pembelian ini sebenarnya berada di persimpangan antara kebijakan pemerintah dan strategi pertahanan laut Angkatan Laut Australia. Termasuk bertentangan dengan kebijakan pengelolaan anggaran pertahanan, kebijakan untuk memajukan industri galangan kapal, investasi di industri pertahanan dalam negeri, dan yang tidak dapat dipungkiri adalah sisa-sisa permusuhan atas tindakan Jepang selama Perang Dunia II.

Selain itu, rencana pembelian ini berbarengan dengan persiapan kertas putih pertahanan pertama Australia dari pemerintahan Abbott, yang mana merupakan kebijakan yang menitikberatkan pengadaan alat pertahanan oleh industri dalam negeri yang dalam hal ini dikomandoi oleh Defence Materiel Organisation Australia. Indikasinya, pembelian kapal selam Soryu ini kemungkinan besar akan diumumkan sebelum kertas putih pertahanan ini dirilis, memunculkan pertanyaan mengenai relevansi kebijakan pemerintahan Abbott.

Pembelian kapal selam dari Jepang jelas akan mempererat hubungan pertahanan antara Australia dan Jepang, namun di sisi lain juga akan membuat China naik pitam, yang mana hal ini Australia enggan menyinggungnya karena khawatir muncul pembalasan ekonomi dari China. Para pemimpin China saat ini masih memiliki ingatan yang kuat atas penderitaan bangsa mereka di bawah pendudukan Jepang, terlebih lagi hingga saat ini China dan Jepang masih bersengketa wilayah seolah pembelian ini menjadikan Jepang ingin membuat aliansi untuk melawan China.

Tergantung dimana kapal-kapal selam ini akan dibuat, dirakit atau dirawat, proyek pembelian kapal selam dari Jepang ini bisa menjadi pertanda awal 'kematian' industri galangan kapal angkatan laut Australia terutama bagi Australian Submarine Corporation (ASC) di Adelaide, yang selama ini hanya menggantungkan 'hidup' dari pembelian dalam negeri Australia. ASC juga lah yang selama ini melakukan perawatan pada kapal-kapal selam Australia.

Rencana untuk mengganti enam kapal selam Kelas Collins (buatan ASC) pada pertengahan tahun 2020 dengan 12 kapal selam baru ini mungkin akan menjadi pembelian militer termahal negara ini, dengan perkiraan biaya hingga USD 40 miliar.

Bagi Australia, Soryu memiliki daya tarik tersendiri. Soryu adalah desain baru dan telah sukses dioperasikan Angkatan Laut Bela Diri Jepang sejak tahun 2009. Selain itu, pemerintah Australia tampaknya sangat terobsesi dengan dengan harganya yang murah yaitu sekitar USD 25 miliar untuk 12 kapal selam Kelas Soryu,  akan banyak menghemat anggaran pertahanan Australia.

Jepang saat ini sudah mengoperasikan 5 kapal selam Kelas Soryu, 1 unit masih menjalani uji coba laut, dan 2 unit lainnya masih dibangun dari rencana total 10 unit. Mengusung Sistem Propulsi Udara Independen (AIP) Swedia yang super 'silent', Soryu dapat terus menyelam selama dua minggu, lebih lama dari kebanyakan kapal selam diesel listrik saat ini, dan memiliki jangkauan 6.100 mil laut. Teknologi lapisan anechoic (semacam ubin) pada lambungnya akan mengurangi deteksi dari radar.

Baca juga: Jepang Masuki Pasar Kapal Selam Dunia dengan Kapal Selam Soryu

Rencana pembelian kapal selam dari Jepang ini telah menjadi bukti dari sekian banyak bukti bahwa pemerintahan Abbott menerapkan perdagangan bebas, yang mana enggan berinvestasi pada industri pertahanan dalam negeri apabila harga senjata yang ditawarkan oleh luar negeri jauh lebih murah.

Memang tidak dipungkiri, program pengadaan 12 kapal selam untuk menggantikan kapal selam Australia yang senilai USD 40 miliar ini akan menjadi penghalang, terlebih lagi pemerintah Australia tampaknya tidak percaya untuk menyerahkan proyek ini ke industri pertahanan dalam negeri (khawatir proyek molor dan biaya membengkak). Sedangkan harga yang ditawarkan Jepang jauh lebih murah yaitu USD 25 miliar untuk 12 kapal, tentu ini keuntungan besar bagi Australia.

Baik Abbott dan Menteri Pertahanan David Johnston tampaknya memang sangat mengagumi kapal selam Soryu Jepang. Johnston sendiri adalah politisi asing pertama yang memriksa langsung kapal selam Soryu. Dia mengatakan :"Sangat mengesankan."

Kemudian, pada konferensi Australian Strategic Policy Institute dia menggambarkan Soryu sebagai: "Desain yang paling mendekati persyaratan kita. Tidak ada kapal selam diesel listrik lainnya yang seukuran (Soryu), kita harus berbicara dengan mereka (Jepang)," katanya.

Jika jadi, sejumlah besar pekerjaan di industri pertahanan Australia akan dipertaruhkan, terutama bagi industri galangan kapal di Australia selatan. Tidak ada order maka galangan-galangan kapal ini akan menderita. Selain itu, konsekuensi pembelian ini akan mengancam suara mayoritas parlemen Tony Abbott, utamanya karena pembelian ini mengingkari rencana jangka panjang pertahanan Australia.

Gambar Soryu: pages.intnet.mu

[Video] 10 Kecelakaan Parah Pesawat di Kapal Induk

Kecelakaan di kapal induk

Take off dan landing dari dan ke kapal induk merupakan hal yang sangat berbahaya. Dibutuhkan pelatihan yang intensif dan kemampuan yang baik agar mampu melaksanakan tugas ini.

Menurut sobat jenis pekerjaan apa yang paling berbahaya di dunia. Mungkin salah satunya adalah pekerjaan ini, yaitu bekerja di kapal induk baik sebagai pilotnya maupun kru udaranya.

Berbeda dengan take off dan landing di lapangan terbang di darat, pesawat dan helikopter yang beraksi di kapal induk atau kapal perang besar akan menghadapi berbagai kendala, seperti ruang gerak yang terbatas, weight limit, kondisi cuaca dan angin, dan tentu saja tidak ada landasan terbang pengalihan, selain di kapal induk itu sendiri. Itulah sebabnya meskipun para personelnya sudah banyak menjalani pelatihan dan keterampilan, ditambah lagi teknologi platform berbasis kapal induk kian canggih, sesuatu yang tidak beres masih terus terjadi hingga sekarang, apalagi dulu.

Video di bawah ini menunjukkan beberapa kecelakaan pendaratan dan kecelakaan lainnya di kapal induk. Termasuk insiden di kapal induk atau kapal perang AS dan negara lain.


Di Youtube banyak sekali video semacam ini. Mungkin sobat pernah melihat video kecelakaan yang lebih mengerikan dari video ini. Silahkan bagikan di komentar.

LAPAN dan PT DI Segera Produksi Komponen Pesawat N219

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) menyelenggarakan peresmian "First Cutting Detail Part Manufacturing N219" di hangar produksi PT DI, Bandung, Jawa Barat, Selasa, 9 September 2014. Kegiatan ini merupakan tanda dimulainya tahap produksi komponen pesawat.

Secara simbolis, Kepala Lapan, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin didampingi Direktur Utama PT DI, Dr. Budi Santoso, melakukan pemotongan material yang akan digunakan untuk pembuatan komponen sekat jendela di bagian depan pesawat. Dalam kegiatan tersebut, Kepala Lapan dan Direktur PT DI juga menandatangani perpanjangan nota kesepahaman kerja sama kedua instansi. Kerja sama tersebut meliputi penelitian, pengembangan, perekayasaan, dan pemanfaatan teknologi kedirgantaraan.

Kepala Lapan, dalam sambutannya mengatakan bahwa tahap produksi komponen pesawat ini menjadi catatan baru dalam sejarah. Ia yakin, Lapan dan PT DI akan bangkitkan sejarah baru sesuai RPJM untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur, memiliki kemandirian tidak murah, dan memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan teknologi kedirgantaraan.

Ia melanjutkan, teknologi penerbangan Indonesia sempat melejit, dan saat ini diupayakan untuk kembali bangkit. "Pada 2011, Lapan berjuang agar pengembangan teknologi penerbangan bisa semarak, maka diperlukan upaya-upaya untuk bisa membantu mengembangkan teknologi penerbangan. Pengembangan pesawat N219 menjadi langkah awal pembangunan pesawat tranportasi dan juga menjadi awal kemandirian," ujarnya.

Untuk itu, Kepala Lapan melanjutkan, penerbangan Indonesia akan maju. Lapan memiliki visi untuk memajukan penelitian dan pengembangan teknologi penerbangan Indonesia. Dengan demikian, diperlukan kerja sama dan sinergi antarinstansi untuk mewujudkannya. "Program pembangunan pesawat ini membuktikan kemandirian kita dalam membuat pesawat transportasi untuk daerah terpencil. Pembangunan pesawat ini juga untuk membangkitkan kembali industri dirgantara dalam negeri," ujarnya.

N219 merupakan pesawat perintis berpenumpang 19 orang. Pesawat ini merupakan hasil pengembangan Lapan dan PT DI. Lapan sebagai instansi pemerintah yang diamanatkan untuk penelitian dan pengembangan kedirgantaraan melalui Pusat Teknologi Penerbangan mengalokasikan anggaran dengan melibatkan engineer di bidang aerodinamika, struktur, propulsi dan avionik untuk mengembangkan N219. Pesawat ini diharapkan akan memenuhi kebutuhan untuk penerbangan di daerah terpencil dengan landasan pendek. (LAPAN)

N219: 60% komponen buatan dalam negeri

N219 disebut-sebut bakal menjadi kebangkitan industri pesawat terbang nasional. Ide, model, dan desain pesawat ini dirancang oleh putra-putra bangsa. Begitu juga dengan komponennya yang 60% akan dibuat di dalam negeri.

"Jumlah part N219 mencapai 5 ribu part kecil. Sekitar 60 persennya lokal," ujar Direktur Utama PT DI, Budi Santoso, dalam acara nota kesepahaman PTDI dan LAPAN, serta First Cutting Detail Part Manufacturing N219 di Bandung, Selasa, 9 September 2014.

Namun untuk mesin, N219 masih mengimpor. Budi mengatakan, N219 dibuat dengan konsep yang sederhana. "Kami mencoba membuat pesawat yang permesinannya sederhana. Karena kami ingin biaya produksi yang murah. Namun kita bisa mendapatkan keuntungan untuk pengembangan program lainnya," katanya.

Dalam pembuatan komponen, Budi mengingatkan tim produksi untuk serius. "Pengalaman saya dulu, kalau gagal, part dibuang ke tempat sampah. Kami ingin mekanik bisa meyakinkan supaya komposisi komponen sudah betul. Yang produksi juga jangan stres," minta Budi.

Direktur Teknologi PT DI Andi Alisyahbana mencontohkan, komponan kaca pesawat yang biasanya diimpor, bakal dicoba untuk menggunakan barang dalam negeri. "Kaca yang biasanya impor, kali ini kita akan ajak industri kaca dalam negeri," katanya. (DETIK)

Rusia Berhasil Luncurkan ICBM Bulava dari Kelas Borey

Peluncuran rudal Bulava

Rusia berhasil menguji tembak rudal balistik antar benua (ICBM) "Bulava" dari kapal selam bertenaga nuklir Kelas Borey "Vladimir Monomakh," Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan pada Rabu dilansir RIA Novosti.

Rudal balistik itu diluncurkan dari dalam air, Rabu pagi, dari lokasi dekat Laut Putih di barat laut Rusia dan mengenai target yang direncanakan di Kura, Kamchatka, wilayah timur jauh Rusia. Ini adalah pertama kalinya Vladimir Monomakh meluncurkan rudal balistik Bulava.

Peluncuran Bulava ini merupakan bagian dari uji coba negara pada senjata dan sistem kapal selam Vladimir Monomakh, kata juru bicara Kementerian Pertahanan Mayor Jenderal Igor Konasehnkov dikutip RIA Novosti.

Bulava (SS-NX-32) adalah rudal balistik tiga tahap berbahan padat yang diluncurkan khusus dari kapal selam (SLBM/Submarine-Launched Ballistic Missile). Berdimensi panjang 12 meter, diameter 2 meter, bobot 36,8 ton, mampu membawa hingga 10 hulu ledak independen dan memiliki jangkauan hingga 9.000 kilometer. Dilaporkan Reuters, rudal ini 100 kali lebih kuat daripada bom atom yang menghancurkan Hiroshima pada tahun 1945.

Kelas Borey (Project 955) adalah kapal selam rudal balistik bertenaga nuklir pertama yang dibangun Rusia sejak runtuhnya. Vladimir Monomakh adalah kapal selam ketiga dari total delapan kapal selam Kelas Borey yang direncanakan dibangun Rusia hingga 2020. Pembangunan Vladimir Monomakh dimulai pada tahun 2006 dan diluncurkan pada 2012 lalu. Kapal selam ini berdimensi panjang 170 meter, kecepatan 30 knot, diawaki oleh 107 personel dan mampu membawa membawa 16 rudal Bulava.

Kapal selam Vladimir Monomakh
Vladimir Monomakh
Kapal selam pertama dan kedua dari Kelas Borey adalah adalah "Yury Dolgoruky" dan "Aleksandr Nevsky." Sedangkan kapal selam keempat dan kelimanya adalah "Knyaz Vladimir" dan "Knyaz Oleg" yang saat ini masih dibangun di galangan kapal Sevmash di Severodvinsk. Kapal-kapal selam nuklir inilah yang akan menjadi tulang punggung kekuatan nuklir strategis berbasis laut Rusia menggantikan kapal-kapal selam pendahulunya yang akan pensiun akhir dekade ini, seperti Kelas Delta III, IV dan Typhoon.

Rudal Bulava kali ini khusus dirancang untuk digunakan kapal selam Kelas Borey. Sejak dimulai tahun 2004, uji coba rudal Bulava telah dilakukan sebanyak 19-20 kali. Tingkat kegagalan masih jauh lebih tinggi, hanya delapan (termasuk peluncuran kali ini) diantaranya yang dinyatakan berhasil. Meskipun banyak menemui kegagalan dalam uji coba, Departemen Pertahanan Rusia tetap bersikeras untuk tidak menggantikan senjata kapal selam Kelas Borey dengan rudal lain. Peluncuran Bulava berikutnya direncanakan pada bulan Oktober dan November.

Pada September tahun lalu, uji coba rudal Bulava dari kapal selam Aleksandr Nevsky juga mengalami kegagalan. Rudal jatuh di Samudera Arktik akibat kegagalan sistem kontrol mesin pada tahap keduanya. Tim penyelidik menyatakan rudal itu rusak karena cacat produksi. Menteri Pertahanan Rusia kemudian memerintahkan penghentian uji coba rudal Bulava pada seluruh kapal selam sampai sistem rudal sudah diperbaiki. Sejak itu, baru kali ini Rusia kembali menguji coba rudal Bulava.

Sebelum Kelas Borey lahir, satu-satunya kapal selam yang menguji coba rudal Bulava adalah "Dmitry Donskoy" dari Kelas Typhoon. Kapal selam terbesar di dunia menguji coba rudal Bulava sejak tahun 2004 hingga Yury Dolgoruky (Kelas Borey) meluncurkan Bulava pertamanya pada 2011.

Gambar peluncuran Bulava: Armada Utara Rusia (Via RIA Novosti)
Gambar Vladimir Monomakh: Biro Desain Rubin Rusia (Via RIA Novosti)

11 Senjata Unik Milik Amerika dan Sekutu Dekatnya

Amerika Serikat adalah negara yang paling banyak mengembangkan dan memproduksi senjata-senjata canggih. Senjata seperti UAV MQ-9 Reaper, Laser Avenger, dan ADAPTIV membuat tentara AS unggul dalam hal teknologi di medan-medan perang dunia, termasuk perang dalam misi-misi polisi dunia AS di Timur Tengah Saat ini.

Dibawah ini adalah 11 senjata unik yang hanya dimiliki AS dan sekutu dekatnya yang kami sadur dari laman Business Insider.

Drone MQ-9 Reaper

MQ-9 Reaper
MQ-9 Reaper
Drone MQ-9 Reaper diproduksi oleh General Atomics Aeronautical Systems, terbang pertama kali pada tahun 2001. Amerika Serikat mulai menggunakannya pada tahun 2007. Pengguna lainnya adalah Angkatan Udara Inggris, Italia, Belanda dan Prancis.

Hingga saat ini, sebagian besar tugas Reaper adalah melakukan misi intelijen dan pengintaian. Reaper adalah UAV terbesar yang dimiliki AS, dengan rentang sayap 20 m, maksimum berat lepas landas 4.760 kg, kapasitas muatan 1.700 kg dan jangka waktu penerbangan maksimal 14 jam (sarat muatan).

Reaper mampu membaca plat nomor kendaraan dari jarak dua mil (jarak horizontal) saat terbang di ketinggian 15.800 m. Mampu membawa bom, rudal udara ke darat, dan rudal udara ke udara sebesar 227 kg.

Di awal dekade ini, AS lebih banyak melatih personelnya untuk mengoperasikan Reaper ketimbang pelatihan untuk senjata lain. Di masa depan, armada UAV ini akan menjadi dukungan udara terbesar Amerika Serikat.

Auto Assault-12 (AA-12) Shotgun

Auto Assault-12
AA-12 Shotgun
AA-12 atau Atchisson Assault Shotgun versi awal pertama kali diproduksi Maxwell Atchisson pada tahun 1972, kemudian versi upgradenya diluncurkan pada tahun 2005.

AA-12 mampu menembakkan lima amunisi 12-gauge shell per detik. Karena recoilnya didesain hanya 10 persen dari shotgun biasa, AA-12 dapat ditembakkan dari pinggul hanya dengan satu tangan. AA-12 juga dapat menembakkan granat fragmentasi atau berdaya ledak tinggi yang disebut sebagai FRAG-12 dengan jarak efektif 175 meter.

Didesain untuk penggunaan jangka panjang, uji coba menunjukkan bahwa AA-12 mampu menembakkan hingga 9.000 putaran tanpa terjadi kemacetan atau harus dibersihkan. Pengguna harus menahan pemicu selama empat detik untuk mengosongkan 20 putaran dalam drum magazine (satu detik lima putaran).

Jubah Tank ADAPTIV

ADAPTIV
Sebuah IFV CV-90 yang dilengkapi ADAPTIV. Gambar: BAE Systems
ADAPTIV adalah jubah tank yang diproduksi oleh BAE Systems dan diluncurkan pada tahun 2013. Dikembangkan dan dipatenkan di Swedia, sebuah tank yang menggunakan ADAPTIV dapat membaur dengan lingkungan sekitarnya (seperti bunglon) agar tidak terlihat dan juga dapat memberikan sinyal palsu sehingga musuh salah mengira. Misalnya musuh akan melihat tank tersebut sebagai benda lain seperti mobil atau binatang. Baca lebih lanjut tentang ADAPTIV disini.

Senapan PHASR

Senapan PHASR
PHASR
Senapan PHASR (Personnel Halting and Stimulation Response) adalah jenis dari senjata laser genggam (dazzler) yang akan membuat musuh buta dan disorientasi ketika terkena pancarannya. Senapan ini dikembangkan oleh Departemen Pertahanan AS dan diluncurkan pada tahun 2007.

Sebelumnya Amerika Serikat pernah mengembangkan Blinding Laser Weapons (BLWs) yang dapat membuat kebutaan permanen, namun pada tahun 1995 PBB melarang penggunaan senjata ini. Berbeda dengan PHASR, karena PHASR hanya menyebabkan kebutaan sementara

Senjata laser Dazzler (mirip seperti senter) awalnya hanya dipasang di senapan-senapan tentara AS, ditujukan sebagai cara non-mematikan untuk menghentikan orang-orang yang menerobos pos pemeriksaan militer.

Taser Shockwave

Taser Shockwave
Taser Shockwave, ukuran 1 bloknya sekitar 40-50 cm. Gambar: Gizmodo
Taser Shockwave diproduksi oleh TASER dan diluncurkan pada tahun 2008. Sekali saja tombol ditekan, senjata ini dapat menyetrum segerombolan orang. Senjata ini memiliki jangkauan efektif sekitar 25 m.

Taser Shockwave bisa dijadikan sebagai senjata "area of denial," mudah diaplikasikan pada kendaraan (Humvee AS sering dilengkapi dengan ini) dan kemampuannya akan meningkat ketika blok-bloknya digabungkan.

Black Knight

Black Knight
Black Knight. Gambar: Military Today
Dikembangkan oleh BAE Systems dan diluncurkan pada tahun 2008, Black Knight merupakan kombinasi dari tank remot kontrol dan kendaraan Scout, dirancang untuk beroperasi di daerah yang dianggap terlalu berisiko bagi kendaraan berawak.

Untuk efisiensi biaya, Black Knight mengusung berbagai sistem senjata dan mesin milik kendaraan tempur berawak Bradley. Kanon 30 mm, senapan mesin dan mesin dengan kekuatan 300 hp. Kendaraan ini juga dapat dilengkapi dengan perangkat lunak navigasi otonom yang menjadikannya mampu membuat rutenya sendiri tanpa perlu perintah dari pangkalan.

Active Denial System (ADS)

Active Denial System
Active Denial System
Active Denial System (ADS) diproduksi oleh Raytheon dan diluncurkan pada tahun 2008 yang merupakan kombinasi dari radar array dan microwave.

ADS akan menembakkan aliran gelombang elektromagnetik, yang akan langsung diserap kulit manusia lapisan atas. Secara tidak resmi, senjata ini disebut sebagai 'heat ray' atau sinar panas karena cara kerjanya yang membuat panas kulit manusia. Efeknya akan menimbulkan rasa sakit dan panas yang hebat. Militer AS juga menyebutnya sebagai "Goodbye weapon." Militer AS mengklaim bahwa tidak ada efek yang tertinggal pasca terpapar ADS.

Sementara ini ADS baru digunakan di dalam negeri AS untuk uji coba. Pada tahun 2010 ADS pernah disebarkan ke Afghanistan, namun satu bulan kemudian ditarik kembali tanpa pernah beraksi. Alasan penarikan hingga kini tidak diketahui.

Laser Avenger

Laser Avenger
Laser Avenger. Gambar: Boeing
Laser Avenger diproduksi oleh Boeing Combat Systems dan diluncurkan pada tahun 2009. Hanya berdiameter beberapa centimeter, dan tak terlihat dengan kasat mata, Laser Avenger dua puluh kali lebih panas dari kompor listrik dan dapat memotong peluru artileri dengan mudah.

Terpasang pada kendaraan Humvee, Laser Avenger dikembangkan dengan harapan agar efektif meledakkan Improvised Explosive Devices (IEDs) yang telah banyak menyebabkan korban jiwa pasukan AS selama misi di Irak dan Afghanistan daripada senjata lainnya. Avenger juga tengah diuji coba untuk menghancurkan kendaraan udara.

Robot MAARS

Robot MAARS
Robot MAARS saat diuji coba di Massachucetts (8/4/2009). Gambar: Essdras M Suarez/Globe Staff
Robot MAARS (Modular Advanced Armed Robotic System) dikembangkan oleh QinetiQ dan diluncurkan pada tahun 2009. Robot MAARS merupakan robot remot kontrol penjinak bom. Dapat dikustom untuk berbagai macam kebutuhan, robot MAARS dapat dikonfigurasi dengan senapan mesin MB240, peluncur granat 40 mm, pengeras suara, dan laser yang menyilaukan mata.

XM2010 Enhanced Sniper Rifle

XM2010
XM2010
XM2010 Enhanced Sniper Rifle dikembangkan oleh Remington dan diluncurkan pada tahun 2010. Senapan sniper ini merupakan modifikasi dari sang 22 tahun senapan sniper M24. XM2010 dirancang untuk pertempuran di ketinggian tinggi dan lingkungan yang ekstrem, seperti medan perang Afghanistan.

Akurasi mencapai 1.200 meter, XM2010 dilengkapi dengan flash suppressor, sound suppressor, dan thermal sleeve untuk menghindari laras yang panas terdeteksi inframerah.

Ketika para sniper AS selesai menjalani pelatihan lima minggu menggunakan XM2010 di Fort Benning, mereka mampu mengenai target seukuran manusia dalam sembilan dari sepuluh kali tembakan pada jarak 600 meter.

XM25 Individual Airburst Weapon System (IAWS)

XM25
XM25
XM25 Individual Airburst Weapon System (IAWS) dikembangkan oleh Heckler & Koch dan diluncurkan pada tahun 2004. Dijuluki oleh pasukan Amerika di Afghanistan sebagai "The Punisher", XM25 sangat akurat menembakkan granat 25 mm generasi baru pada jarak hingga 500 meter.

Namun, bukan jangkauan efektifnya yang membuat tentara Amerika terkesan, melainkan program pengembangan granatnya. Laser rangefinder pada XM25 akan menentukan jarak ke target. Pengguna dapat menyesuaikan jarak detonator secara manual lebih kurang hingga 3 meter, XM25 secara otomatis akan mentransmisikan jarak detonator ke granat. Granat melacak jarak perjalanannya dengan mengukur jumlah rotasi spiralnya setelah diluncurkan, kemudian meledak pada jarak yang diinginkan untuk menciptakan efek ledakan udara.

Fitur-fitur unik inilah yang membuat XM25 lebih efektif dari peluncur granat konvensional, yaitu mampu menghancurkan musuh di belakang rintangan atau di dalam parit. Seorang pemimpin peleton AS mengatakan bahwa: "Dengan XM25, pertempuran yang biasanya berlangsung antara 15 sampai 20 menit, kini dapat diakhiri dalam beberapa menit saja."

Tu-144: Pesawat Transportasi Supersonik Pertama di Dunia

Tupolev Tu-144

Tupolev Tu-144 adalah pesawat transportasi supersonik pertama di dunia yang dibangun oleh Biro Desain Tupolev Uni Soviet. Uni Soviet memulai pengembangan Tu-144 pada tanggal 26 Juli 1963. Desainer utamanya adalah Andrei Nicholayvich Tupolev (1888-1972), yang juga banyak mendesain pesawat untuk Uni Soviet - setelah kematiannya Biro Desain Tupolev dipimpin oleh putranya Alexei.

Tupolev Tu-144

Analis penerbangan Barat menjuluki Tu-144 dengan "Concordski," yang seolah berarti "pesawat Concorde versi Rusia." Concorde adalah pesawat transportasi buatan Perancis, yang desainnya memang cukup mirip dengan Tu-144. Namun, Tu-144 terbang lebih dulu daripada Concord, yaitu pada 31 Desember 1968 di dekat Moskow, dua bulan sebelum pesawat Concorde terbang.

Tupolev Tu-144
Gambar: Lothar Willmann/Wiki Common
Prototipe Tu-144 yang pertama, berhasil mencapai kecepatan suara pada pada tanggal 5 Juni 1969, dan pada 26 Mei 1970 telah menjadi pesawat transportasi komersial pertama di dunia yang kecepatannya mencapai Mach 2 (2.450 km/jam).

Tupolev Tu-144

Tu-144 yang berdimensi panjang 65,5 meter, rentang sayap 28,8 meter, tinggi 12,5 meter dan maksimum bobot lepas landas 207 ton ini diawaki oleh 3 orang kru dan mampu mengangkut hingga 140 penumpang.

Tupolev Tu-144
Tu-144 di Museum Sinsheim, Jerman. Gambar: Hans-Peter Scholz Ulenspiegel/Wiki Common
Tercacat 16 pesawat sudah dibangun antara tahun 1963-1984, yang kesemuanya sudah tidak dioperasikan lagi (satu unit jatuh saat Paris Air Show 3 Juni 1973). Selain Uni Soviet, pengguna lainnya adalah NASA.
HOME
▲ Back To Top
NEWSLETTER

Masukkan email pada form di bawah ini lalu klik 'SUBMIT'. Setiap artikel terbaru akan kami kirimkan ke email Anda.


Sebagian besar kematian tempur di Perang Napoleon, Perang Dunia I dan Perang Dunia II disebabkan oleh artileri. Stalin menyebut artileri sebagai "God of War". Namun, ini hanya blog yang bernama ARTILERI.


  • facebook
  • twitter
  • google plus
  • rss