Latest Post

Iran Konfirmasi Uji Coba Penembakan Sistem Rudal Pertahanan Udara Bavar-373

Rudal Bavar-373

Komandan Pangkalan Pertahanan Udara Khatam al-Anbiya, Brigadir Jenderal Farzad Esmaili pada hari Sabtu mengatakan bahwa sistem rudal Bavar-373 telah sukses melepaskan tembakan pertamanya. Dia juga mengatakan bahwa pembangunan sistem rudal itu merupakan alternatif dari sistem rudal pertahanan udara S-300 yang mana sebelum Moskow telah membatalkan penjualannya kepada Iran. Esmaili juga mengklaim bahwa Bavar-373 lebih unggul dari sistem-sistem rudal sekelas yang diproduksi negara-negara lain.

Pada hari Jumat, Fars News Agency menampilkan gambar pertama dari rudal Bavar-373, menyebutkan bahwa publikasi ini sebagai pesan bagi dunia bahwa Angkatan Bersenjata Iran sudah swasembada senjata pertahanan.

Pada Februari lalu, Brigjen Esmaili mengatakan bahwa sistem rudal Bavar-373 akan siap pada bulan Maret 2015.

Menurut pejabat keamanan Iran, sistem rudal baru ini lebih baik dari S-300 Rusia, mampu melacak hingga secara 100 target seperti halnya sistem rudal Rusia, namun dengan kemampuan penargetan yang lebih tinggi.

"Kami percaya bahwa perisai rudal Bavar lebih baik daripada sistem rudal pertahanan udara jarak jauh buatan negara lain," dilaporkan oleh ol-Anbia, dilansir oleh Fars.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memerintahkan pengembangan sistem rudal Bavar setelah Presiden Rusia Dmitry Medvedev menolak menjual S-300 ke negara itu karena masih dalam status embargo senjata PBB.

Proyek Jet Tempur Siluman India-Rusia Alami Kendala

PAK FA

India semakin khawatir dengan lambatnya kemajuan dari proyek Fifth Generation Fighter Aircraft (FGFA). FGFA adalah proyek bersama India dan Rusia untuk membangun pesawat tempur generasi kelima untuk Angkatan Udara India (IAF).

Salah satu yang menjadi kegundahan India adalah sikap Rusia yang tidak menjelaskan penyebab terbakarnya prototipe pesawat tempur siluman T-50 saat uji coba bulan Juni lalu dan juga terhadap beberapa keraguan teknis lainya yang juga tidak dijelaskan Rusia kepada India. Bahkan, Kementerian Pertahanan India memandang skeptis laporan Rusia yang menyatakan bahwa desain final T-50 sudah di tangan.

Dilaporkan, India sangat jengkel dengan kenyataan bahwa meskipun kedua negara ini setara dalam proyek FGFA dalam urusan keuangan, India enggan berbagi rincian teknis pesawat tempur siluman T-50, yang mana proyek FGFA akan berdasarkan desain pesawat ini. Soal pendanaan, bisa dikatakan bahwa pendanaan proyek FGFA juga menjadi sebagian dana pengembangan untuk proyek PAK FA (proyek untuk membangun T-50).

Versi T-50 untuk India, yang disebut sebagai Prospective Multi-Role Fighter (PMF), hampir sama persis dengan T-50, hanya terdapat sedikit variasi. Bahkan disebutkan juga bahwa uang India merupakan kunci keberlanjutan proyek PAK FA Rusia. Rusia dilaporkan telah membangun enam prototipe T-50, dan pada awal tahun lalu Rusia melakukan uji coba penerbangan untuk evaluasi teknis. Namun uji coba berakhir dengan terbakarnya T-50.

Yang cukup mengejutkan dan menambah kejengkelan India adalah dari tim India yang hadir pada saat uji coba, mereka tidak diperbolehkan berada di dekat T-50. India sangat ingin tahu penyebab terbakarnya T-50 tersebut, namun Rusia tidak pernah menjelaskan. India telah membayar USD 295 juta untuk desain awal PMF, yang mana desainnya telah diselesaikan tahun lalu, dan cukup logis jika pejabat India merasa khawatir dengan program FGFA yang terkesan merangkak pasca diselesaikannya desain awal. Dan satu hal, India juga dilaporkan belum puas dengan desain awal PMF dan juga mempertanyakan masalah pemeliharaan, mesin, fitur siluman, sistem  senjata, keamanan dan keandalan. India menilai tidak akan ada kemajuan jika masalah-masalah ini belum dituntaskan.

Apa yang ada di benak India tetap tidak terjawab bahkan setelah kedua pihak berdialog di bulan ini. Hanya sebuah jawaban yang sangat umum mucul dari Rusia: "Jangan emosional. Setiap dorongan lebih lanjut mengenai masalah ini hanya akan melahirkan pembicaraan lagi untuk menaikkan biaya proyek," menurut sumber media India. Maksudnya seperti ini, misalnya, pada tahun lalu Angkatan Udara India telah menyatakan ketidakpuasannya dengan mesin T-50, yang mana masih berdasarkan mesin Su-30. Akhirnya Rusia bisa menjanjikan mesin baru namun India harus menambah biaya proyek.

Hingga saat ini, belum ada satupun ahli penerbangan atau pilot India yang mengenal dengan baik T-50. Menurut India, Rusia tidak mengizinkan pilot India menerbangkan T-50, alasannya pilot negara asing dilarang terbang di wilayah udara mereka. Tapi India menyangkal aturan pembatasan tersebut, mengingat sebelumnya pilot India sudah menerbangkan Sukhoi dan MiG di wilayah Rusia. India menilai posisi mereka dalam proyek FGFA sangat tidak menguntungkan, selain hanya sebagai mitra keuangan.

Kewajiban yang harus dijalankan India dalam usaha patungan ini adalah membayar 13 persen dari proyeksi biaya proyek yang senilai USD 10,5 miliar (disepakati pada 2011), tapi pada kenyataannya India sudah membayar hingga 50 persen dari dana itu, hal ini dilaporkan laman India Today. Memang India tidak hanya berkontribusi dalam proyek hanya untuk pendanaan, BUMN pertahanan India Hindustan Aeronautics Limited (HAL) juga berkontribusi pada pekerjaan pembangunan meskipun hanya sebatas ban, instrumen navigasi dasar VOR-DME, pendingin radar, laser designation pod dan head-up display.

Awalnya India menginginkan sekitar 30-40 PAK FA dua kursi pilot agar juga bisa digunakan sebagai pesawat pelatihan. Namun karena PAK FA adalah pesawat berkursi tunggal, Rusia meminta dana tambahan sebesar USD 8 miliar untuk mengembangkan varian kursi ganda. Niat ini kabarnya dibatalkan India, dan India lebih memilih pelatihan dengan simulator.

Setelah penandatanganan kontrak desain akhir, setidaknya akan memakan waktu 94 bulan untuk menyelesaikan program pembangunan. Artinya Angkatan Udara India kemungkinan baru akan memiliki pesawat tempur generasi kelima pada dekade depan.

(Artikel ini disadur hanya dari sudut pandang beberapa media online India)
Gambar; Vitaly V. Kuzmin/Wiki Common

Fashion VS Pesawat Tempur

Kali ini kita masuk ke dunia fashion. Namanya Fred Butler, seorang designer London yang dikenal dikenal karena pemahaman warnanya yang kuat, dan aksesorisnya disebutkan pernah dipakai oleh Lady Gaga. Dalam blognya, dia memposting tentang rancangan busana yang motif dan warnanya mirip dengan skema warna seperti yang digunakan beberapa pesawat tempur dunia.

Langsung saja, tanpa basa-basi, Saya juga nggak ngerti fashion.

Mikoyan MiG 29A Angkatan Udara Slovakia VS Pixelated small squares
Mikoyan MiG 29A

Pixelated small squares


Prototipe Sukhoi Su-32FN VS Bright pop colour
Sukhoi Su-32FN

Bright pop colour


Prototipe Sukhoi PAK FA T-50  VS Geometric design knit
Sukhoi PAK FA T-50

Geometric design knit


Sukhoi Su-30MKM VS Aqua colour
Su-30MKM

Aqua colour


Messerschmitt Bf 109E-7/Trop VS Ombre fade animal
Messerschmitt Bf 109E-7

Ombre fade animal


SK-37 Viggen VS Pattern like Jeremy Scott x Adidas Originals A/W 2011 camouflage sneakers.......... with wings!
SK-37 Viggen

Jeremy Scott x Adidas Originals

Hadapi China, Taiwan Investasikan USD 2,5 Miliar untuk Sistem Rudal Pertahanan udara

Taiwan berencana akan menghabiskan dana senilai USD 2,5 miliar dalam sembilan tahun ke depan untuk mendapatkan sistem anti rudal guna meningkatkan pertahanan udara terhadap China. Dengan dana tersebut, Kementerian Pertahanan Taiwan bermaksud membeli sistem rudal pertahanan udara Tien Kung 3 (Sky Bow 3) dalam rentang tahun 2015 hingga 2024.

Rudal Tien Kung 3
Rudal Tien Kung 3. Gambar: Samuel Hui
Tien Kung 3 adalah sistem rudal pertahanan udara buatan dalam negeri Taiwan yang rencananya akan menggantikan sistem rudal Hawk yang sudah tua, kata Lin Yu-fang, anggota parlemen Taiwan dari komisi pertahanan dilansir laman Channel News Asia. Pengadaan ini akan menjadi pengadaan sistem anti rudal buatan dalam negeri terbesar dalam beberapa tahun terakhir, Lin menjelaskan pada Jumat.

Tien Kung 3 adalah sistem rudal versi ketiga dari sistem rudal Tien Kung yang dikembangkan oleh Chungshan Institute of Science and Technology (CSIST) Taiwan. CSIST merancang Tien Kung 3 yang mirip dengan sistem rudal Patriot Amerika Serikat ini sebagai senjata pertahanan udara untuk menghadapi rudal balistik, rudal jelajah dan pesawat tempur siluman. Dilaporkan, Tien Kung 3 memilki jangkauan sekitar 200 km.

Sejak mulai mengembangkan sistem anti rudal pada tahun 1996, CSIST dilaporkan hingga saat ini telah menghabiskan dana senilai USD 678 juta. Tien Kung 3 sendiri baru pertama kali ditampilkan di hadapan publik saat Parade Hari Nasional pada tahun 2007, dan telah diuji coba dalam latihan tempur skala besar pada tahun 2011.

Peluncur rudal Tien Kung 3
Peluncur rudal Tien Kung 3. Gambar: Jack Hammond's/Photobucket
Ketegangan antara Taipei dan Beijing berangsur mereda sejak Ma Ying-jeou menjadi Presiden Taiwan pada tahun 2008 dan terpilih kembali pada tahun 2012. Meski ketegangan cenderung mereda, namun China tetap menganggap pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu adalah bagian wilayahnya, yang menunggu reunifikasi, jika perlu dengan kekuatan militer.

Analis militer Taiwan memperkirakan bahwa Tentara Pembebasan Rakyat China saat ini telah menyebarkan lebih dari 1.600 rudal yang ditujukan kepada Taiwan. Namun ketika pejabat Taiwan dimintai konfirmasi oleh media, mereka tidak bersedia memberikan keterangan.

Persaingan Sistem Rudal Pertahanan Udara dengan China

Tidak hanya Taiwan, dalam beberapa tahun kedepan China juga akan berinvestasi besar-besaran untuk sistem rudal pertahanan udara. Di satu sisi, telah banyak terlihat tanda bahwa China akan menjadi pembeli pertama sistem rudal pertahanan udara S-400 dari Rusia. Sebelumnya China telah mengoperasikan S-300 dan sistem rudal buatan dalam negeri HQ-9.

Dilaporkan, S-400 mampu terlibat dengan 36 target udara secara simultan dan memiliki jangkauan hingga 400 km. Selain itu S-400 dilaporkan mampu mencegat hampir semua ancaman udara pesawat taktis dan strategis, rudal balistik dan rudal jelajah, termasuk dan senjata hipersonik seperti jet tempur F-35 Amerika Serikat.

Yang paling merasa terancam jika China jadi membeli S-400 adalah Taiwan. Untuk saat ini, sistem pertahanan udara tercanggih China yaitu S-300 dan HQ-9 memang hanya mampu mencapai sebagian kecil barat laut Taiwan. Namun, apabila China sudah memiliki S-400, mereka mampu mengancam seluruh cakupan pertahanan udara Taiwan. Terlebih lagi jika dikombinasikan dengan jet-jet tempur, maka China akan lebih mendominasi.

Bagi Taiwan, untuk mengatasi ancaman China mereka mungkin akan menambah armada tempur udaranya dengan F-35, meningkatkan produksi rudal jelajah atau mencari rudal balistik. Bahkan, sebagian berspekulasi bahwa Taiwan akan mengerahkan pasukan khusus dekat ke daratan untuk mencoba menghancurkan S-400 di awal terjadinya konflik.

Sedangkan, Tien Kung 3 diharapkan akan memberikan kontribusi besar untuk pertahanan udara Taiwan dalam menghadapi rudal jelajah dan rudal balistik China. Khususnya, harus mampu menghadapi jet tempur siluman J-20 China. Seperti pernah dikatakan oleh Kao Hua-Chu, mantan Menteri Pertahanan Taiwan, bahwa Tien Kung 3 akan mampu berurusan dengan J-20 asalkan dilengkapi dengan radar yang lebih canggih.

Balitbang Uji Statis dan Dinamis Roket R-Han

Uji coba roket R-Han 450mm

Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan RI (Balitbang Kemhan) dan Konsorsium Roket Nasional melaksanakan uji coba statis roket R-Han 450mm dan uji dinamis roket R-Han 320mm di lapangan Sonda Lapan Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat pada 21 dan 22 Agustus 2014. Uji coba dihadiri oleh Kabalitbang Kemhan dan tim Konsorsium.

Kegiatan ini merupakan lanjutan dari program kegiatan pembuatan prototipe roket dengan jangkauan 100 km 'ground to ground' yang dilaksanakan pada T.A. 2013 yang  pada saat itu sampai pada tahap uji statis roket R-Han 320 mm sebanyak 2 unit dan uji statis roket R-Han 450 mm 1 unit.

Dalam kegiatan ini salah satu implementasi pemanfaatan teknologi khususnya dikaitkan dengan bentuk-bentuk ancaman adalah dikembangkannya roket pertahanan R-Han 320 mm dan R-Han 450 mm. Berdasarkan evaluasi strategis terhadap letak geografis negara Republik Indonesia dan perkembangan situasi serta ancaman yang masih dihadapi, maka peroketan dalam bentuk sistem senjata adalah suatu keharusan dan perlu segera dikembangkan untuk pengembangan dan modernisasi TNI  dalam menjawab tantangan-tantangan perang  serta upaya membuat Indonesia tidak bergantung pada produk luar negeri, khususnya di bidang pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista). 

Penekanan tombol pada saat peluncuran roket R-Han dilakukan oleh Kabalitbang Kemhan Prof. Dr. Ir. Eddy S. Siradj M.Sc. Kegiatan uji coba yang dilaksanakan berjalan dengan lancar dan hasil sesuai harapan.  Diharapkan kegiatan pembuatan prototipe roket jarak 100 km 'ground to ground' (tahap awal) dapat terus berlanjut (multiyears) sehingga akan didapatkan prototipe roket yang andal serta tercapainya kemandirian alutsista, khususnya  teknologi keroketan. (Balitbang Kemhan)

Koarmatim Terima KCR 60M Kedua Buatan PT PAL

Peresmian dan serah terima KRI Tombak-629

Penyelesaian Kapal Cepat Rudal (KCR) kedua dari tiga kapal yang diorder TNI AL merupakan jenis pengembangan dari Kapal Patroli Cepat atau Fast Patrol Boat (FPB-57) yang sebelumnya telah dibangun oleh PT PAL. Hasil pengembangan kapal FPB 57 ini mampu mengatasi target udara, target darat dan kapal permukaan serta dapat menampung sebanyak 55 kru.

Selaras dengan kemampuan dan kapabilitasnya, PT PAL juga melakukan pelatihan kepada para kru kapal. Dengan seluruh semangat, kerja keras dan hasil inovasi dari putra-putri bangsa yang telah mengembangkan teknologi dan kebutuhan kapal yang sesuai kondisi terkini, kapal kedua KCR-60 meter ini dapat terwujud dan siap diserahterimakan kepada TNI AL.

Penyerahan langsung oleh Dirut PT PAL, M. Firmansyah Arifin, sekaligus peresmian KCR-60 meter yang kedua ini diberi nama KRI Tombak-629, dilakukan di dermaga divisi kapal perang PT PAL Surabaya, Rabu, 27 Agustus 2014 yang dihadiri Menhan Purnomo Yusgiantoro dan KSAL Laksamana TNI Marsetio, Pangdam V Brawijaya, Pangarmatim, serta pejabat Kemhan/TNI.

Dalam sambutannya, Menhan mengatakan bahwa pembangunan KRI Tombak-629 ini dilaksanakan oleh PT. PAL yang merupakan BUMN Industri Strategis (BUMNIS), sehingga akan memudahkan TNI AL dalam pemeliharaan selanjutnya dan dapat memberikan alternatif solusi untuk mengurangi ketergantungan pada negara lain dalam pengadaan KRI di masa mendatang. Ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam kemandirian industri dalam negeri.

Kapal buatan PT. PAL ini adalah Kapal Cepat Rudal (KCR)-60M kedua yang masuk jajaran TNI AL. KCR pertama, yakni KCR-60M KRI Sampari-628 telah diresmikan dan diserahterimakan pada Mei lalu. Sedangkan kapal ketiga rencananya akan diserahkan berurutan medio September mendatang. PT PAL membangun 3 KCR pesanan TNI AL ini merupakan bentuk implementasi amanah Undang-Undang 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. 

KRI Tombak-629
KRI Tombak-629. Gambar:Angger Bondan/Jawa Pos
Kehadiran KCR-60M kedua yang telah diserahterimakan saat ini, sesuai dengan Renstra I 2009-2014 dan akan memenuhi kebutuhan pokok TNI sebagai satuan pemukul, dan akan memperkuat jajaran Satuan Kapal Cepat Komando Armada RI Kawasan Timur. KCR-60M ini, berdasarkan pada pertimbangan taktis, dan strategis yang cukup mendalam untuk menjaga dan melindungi wilayah kedaulatan NKRI serta melaksanakan tugas-tugas pertahanan serta penegakan hukum wilayah NKRI.

"Dalam rangka pembangunan kekuatan TNI khususnya TNI AL maka kita akan terus membangun dengan target 16 buah KCR-60M seperti ini yang terus akan kita laksanakan dari waktu ke waktu dari Renstra I yang hampir kita selesaikan sampai dengan nanti Renstra ke-3," ungkap Menhan. "Pemenuhan alutsista TNI ini sebagai bentuk upaya peningkatan Angkatan Laut menjadi World Class Navy," tegas Menhan.

Lebih lanjut Menhan mengatakan bahwa disamping 16 kapal KCR-60M ini nantinya akan dibangun juga KCR-40M yang jumlahnya 16 buah dan PC (Patrol Cepat) yang jumlahnya juga 16 buah.

Menutup sambutannya Menhan berpesan kepada para ABK agar kiranya dapat menjaga, memelihara dan merawat kapal ini dengan baik mengingat pengadaan KCR ini menggunakan uang rakyat melalui APBN.

Arti Nama Tombak

Pemilihan senjata Tombak sebagai nama untuk kapal jenis KCR ini adalah karena senjata tradisional Tombak merupakan senjata tradisional yang ada di Nusantara.

Tombak merupakan senjata tajam dan runcing, bertangkai panjang untuk menusuk dari jarak dekat atau jauh (dengan cara melemparkan). Kata tombak atau tumbak berasal dari Jawa dan sekitarnya (Sunda dan Bali) sedangkan lembing dari bahasa Melayu.

Tombak atau lembing adalah senjata yang banyak ditemukan di seluruh peradaban dunia, terutama karena kemudahan pembuatannya dan biaya pembuatannya yang murah. Tombak adalah senjata untuk berburu dan berperang, bagiannya terdiri dari tongkat sebagai pegangan dan mata atau kepala tombak yang tajam dan kadang diperkeras dengan bahan lain.

Mengingat senjata tombak tersebut merupakan senjata tradisional yang ada di Nusantara. Tombak pantas dan layak untuk digunakan menjadi nama salah satu KRI milik TNI AL. (DMC/PT.PAL)

7 Senjata Teraneh di Dunia

Berbagai konsep senjata militer yang unik dan aneh banyak tercipta di abad 20, sebagian gagal dan sebagian lainnya berhasil dibuat. Di bawah ini adalah tujuh dari sekian banyak konsep senjata aneh yang pernah dibuat di dunia.

Bom Kelelawar

Konsep bom kelelawar dimaksudkan Amerika Serikat sebagai senjata eksperimental yang memanfaatkan kelelawar untuk mengirimkan bom kecil (bom pembakar) terhadap kota-kota Jepang selama Perang Dunia II. Idenya adalah melengkapi kelelawar dengan bahan peledak dan melepaskannya di langit kota-kota Jepang. Kemudian kelelawar bertebaran secara diam-diam dan ketika subuh akan mencari tempat hinggap (perlindungan) di sudut atau celah-celah bangunan, dimana disana bom akan meledak.

Bom kelelawar
Gambar: hushkit.wordpress.com
Untuk memuluskan tujuan ini, dipilihlah kelelawar Mexican Free-tailed. Ribuan kelelawar ini ditangkap dan dimasukkan ke kontainer pendingin untuk hibernasi buatan. Uji coba pertama di Muroc Dry Lake gagal karena banyak kelelawar yang tidak bisa bangun dari hibernasi dan jatuh ke tanah setelah dilepaskan dari pesawat pembom medium B-25 Mitchell di ketinggian 5.000 kaki.

Ketika diuji coba dengan menggunakan bom asli hasilnya cukup bagus, namun banyak kelelawar yang yang lepas dan membakar fasilitas Angkatan Darat AS. Setelah melakukan uji coba dengan 6.000 kelelawar, akhirnya program ini dibatalkan karena terlalu berisiko mengingat kelelawar sulit dikendalikan.

Rudal Merpati

Rudal merpati berasal dari proyek Pigeon (juga disebut proyek Orcon). Proyek ini merupakan eksperimen dari Burrhus Frederic Skinner, seorang psikolog dan analis perilaku Amerika Serikat untuk mengembangkan sistem rudal yang diarahkan (guide) dengan burung merpati selama Perang Dunia II.

Rudal merpati
Nose cone rudal dibagi menjadi 3 kompartemen yang masing-masing diisi burung merpati.
Konsep utamanya adalah membagi nose cone (bagian depan rudal yang berbentuk kerucut) menjadi tiga kompartemen yang dilengkapi dengan lensa yang akan memproyeksikan gambar dari target ke layar bagian depan. Pada tiap-tiap kompartemen akan ditempatkan seekor burung merpati yang bertugas memandu rudal ke target (rencananya target kapal perang). Ketika target sudah terlihat pada layar, merpati akan mematuki gambar target pada layar. Jika 2 atau 3 merpati merpati mematuk ke tengah layar, artinya arah rudal sudah tepat, tapi jika 2-3 merpati mematuk tidak ditengah layar maka melalui sensor yang tersambung dengan kontrol penerbangan rudal, rudal akan berubah arah sesuai arah patukan merpati.

Karena konsep ini membutuhkan respon yang cepat dan merpati harus mengenali targetnya, merpati-merpati ini sebelumnya sudah dilatih untuk mematuk gambar target, sekali mereka mematuk akan diberi satu jagung, semakin cepat mematuk semakin banyak jagung yang diperoleh. Namun karena terkendala masalah pendanaan dan pemerintah Amerika Serikat lebih memilih mengembangkan sistem bimbingan elektronik, proyek ini akhirnya dibatalkan.

Anjing Anti Tank

Anjing anti tank diperkenalkan oleh Uni Soviet untuk meledakkan tank-tank Jerman selama Perang Dunia II. Sejumlah besar anjing dilatih untuk membawa bahan peledak ke arah tank tempur, kendaraan lapis baja dan target-target militer lainnya.

Anjing anti tank
Gambar: Today I Found Out
Konsep awalnya, anjing-anjing ini dilatih untuk membawa dan menjatuhkan bom di dekat tank lalu meninggalkan lokasi, bom kemudian akan diledakkan dengan remot atau timer. Namun proses pelepasan bom oleh anjing ternyata sangat rumit dan memakan waktu, akhirnya konsep diubah dengan meledakkan bom bersama anjing.

Meski sudah dilatih, anjing-anjing anti tank ini tidak membuat kerusakan yang berarti bagi Jerman, hal ini karena naluri alami hewan yang takut akan suara bising dan senjata api. Bahkan beberapa dari anjing-anjing ini malah mendekati tank-tank milik Soviet sendiri. Hingga tahun 1996, pelatihan anjing anti tank masih terus dilakukan meskipun tidak terbukti efisien di medan perang.

Bom Tikus

Bom tikus adalah bom yang diinginkan oleh pasukan khusus Inggris (British Special Operations Executive/SOE) selama Perang Dunia II untuk meledakkan fasilitas Jerman. SOE membeli sekitar seratus tikus, lalu bahan peledak plastik diisikan di dalam tubuh tikus kemudian dijahit.

Tikus dibunuh dan bahan peledak plastik dimasukkan ke tubuhnya.
Rencananya bom tikus ini akan disebarkan di tumpukan batubara di dekat ruang boiler fasilitas Jerman seperti lokomotif, pabrik, pembangkit listrik dengan harapan tikus-tikus ini akan dibuang dan dibakar oleh stoker (penyekop batubara) tungku, sehingga boiler ikut meledak. Meski bom tikus itu hanya diisi bahan peledak kecil, namun penetrasi dari ketel uap bertekanan tinggi dapat memicu ledakan boiler.

Bom-bom tikus ini tidak pernah meledak, karena penyebaran bom tikus yang pertama berhasil dicegat Jerman dan rahasia pun terungkap. Jerman kemudian memamerkan bom tikus sitaan tersebut di sekolah tinggi militer mereka dan selanjutnya melakukan pencarian bom tikus lainnya. Inggris gagal? Tidak. Terungkapnya konsep bom tikus ini malah membuat Jerman banyak mengerahkan sumber dayanya untuk mencarinya. SOE sendiri mengatakan bahwa operasi itu telah sukses.

Torpedo Batubara

Torpedo batubara diciptakan oleh Thomas Edgeworth Courtenay dari Konfederasi Dinas Rahasia (Confederate Secret Service) selama Perang Saudara Amerika. Juga disebut sebagai bom batubara, torpedo batubara adalah besi cor kosong yang diisi dengan bubuk mesiu dan dilapisi batubara sehingga menyerupai gumpalan batubara.

Torpedo batubara
Gambar: cbbic.sharepoint.com
Mirip dengan konsep bom tikus, torpedo batubara ini akan ditempatkan di tumpukan batubara yang digunakan kapal-kapal bertenaga uap Uni Angkatan Laut (Union Navy) untuk meledakkan boiler, yang mana baru akan meledak ketika disekop oleh stoker ke dalam tungku kapal.

Kehancuran yang diciptakan oleh torpedo batubara ini masih belum diketahui karena tidak ada bukti resmi yang mengungkapkan rincian ledakan kapal yang sesungguhnya.

Bom Balon

Bom balon adalah balon hidrogen yang dirancang untuk membawa bahan peledak ringan (bahan pembakar), dikembangkan oleh Jepang selama Perang Dunia II untuk menciptakan kebakaran di kota-kota dan hutan Amerika Serikat dan Kanada.

Bom balon Jepang
Gambar: Museum Nasional USAF
Selama Perang Dunia II, Jepang diketahui telah meluncurkan lebih dari 9.000 bom balon, dan sekitar 300 diantaranya ditemukan di Amerika Utara. Meskipun tidak menyebabkan kerusakan yang berarti, bom balon Jepang ini sempat menewaskan enam orang, menjadikan para korban sebagai satu-satunya korban yang tewas akibat serangan musuh di wilayah Amerika selama Perang Dunia II.

Bom balon diketahui terakhir disebarkan Jepang pada bulan April 1945 dan pada bulan yang sama Jepang menghentikan proyek ini karena dinilai tidak efektif.

Senjata Skunk

Skunk adalah malodorant non mematikan yang dikembangkan oleh Rafael Armament Development Authority untuk Angkatan Pertahanan Israel. Senjata ini digunakan untuk membubarkan massa atau demonstran yang berbuat rusuh. Sejata skunk akan ditembakkan dengan meriam air dari jarak yang aman untuk membubarkan kerumunan.

Senjata skunk
Gambar: טל קינג/Wiki Common
Sesuai dengan namanya yang berasal dari hewan "skunk" atau kita kenal dengan sigung, terkena siraman atau embun senjata ini ini akan menimbulkan bau busuk yang menyengat dan akan melekat pada pakaian hingga lima tahun (bila tidak dicuci). Sebagaimana yang digambarkan oleh reporter BBC saat meliput aksi pengendalian massa pada September 2008, reporter BBC itu mengatakan: "Bayangkan yang terburuk, sesuatu yang paling busuk yang pernah ada. Baunya seperti campuran daging busuk, kaus kaki tua yang tidak dicuci selama berminggu-minggu, dan bau menyengat selokan yang terbuka. Lalu, bayangkan (Anda) tidak akan bisa menghilangkan baunya (dari badan) selama setidaknya tiga hari, tidak peduli seberapa sering Anda mandi."

Senjata skunk dianggap lebih efektif dan tidak berbahaya dibandingkan dengan penggunaan peluru karet atau gas air mata yang biasa digunakan aparat kepolisian. Hingga kini Israel masih terus menggunakannya untuk menghadapi demonstran-demonstran Palestina dan juga berniat menjualnya ke negara lain.
HOME
▲ Back To Top
NEWSLETTER

Masukkan email pada form di bawah ini lalu klik 'SUBMIT'. Setiap artikel terbaru akan kami kirimkan ke email Anda.


Sebagian besar kematian tempur di Perang Napoleon, Perang Dunia I dan Perang Dunia II disebabkan oleh artileri. Stalin menyebut artileri sebagai "God of War". Namun, ini hanya blog yang bernama ARTILERI.


  • facebook
  • twitter
  • google plus
  • rss